Berita Surabaya

Temuan Kasus Omicron, Komisi D Ingatkan Kewaspadaan Pelaksanaan PTM 100 Persen di Surabaya

Anggota Komisi D DPRD Surabaya minta pemkot lebih dulu menuntaskan vaksinasi anak sebelum menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Nuraini Faiq
Ketua Fraksi PSI Surabaya, Tjutjuk Supariono. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Anggota Komisi D DPRD Surabaya yang sekaligus Ketua Fraksi PSI, Tjutjuk Supariono mengingatkan, agar tetap waspada akan rencana pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di Surabaya.

Sebab, saat ini sudah ditemukan kasus Covid-19 varian Omicron di Kota Pahlawan.

"Kalau ada opsi lain, sebaiknya saya lebih setuju jika PTM 100 persen dijadwal ulang. Pemkot lebih dulu menuntaskan program vaksinasi anak," kata Tjutjuk, Kamis (6/1/2022) kemarin.

Kota Surabaya, dipastikan akan memulai PTM 100 persen untuk jenjang SD dan SMP mulai Senin (10/1/2022). Kebijakan ini nencacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri. Pemkot menindaklanjutinya dengan kebijakan wali kota.

Mulai Senin besok, TK, SD dan SMP akan memulai PTM penuh. Namun PTM penuh ini berlaku dua shift atau dua gelombang. Semua siswa belum bisa masuk secara bersamaan.

Baik SD maupun SMP akan berlaku dua gelombang siswa masuk sekolah. Pelajaran SD berlangsung mulai pukul 07.00-09.00 untuk gelombang pertama. Dilanjutkan gelombang kedua mulai pukul 09.30-11.30.

Begitu juga jam masuk SMP juga berlaku dua shift. Shift pertama masuk mulai pukul 06.30-09.30. Dilanjutkan shift kedua mulai 10.00-13.00.

Tjutjuk berharap, agar pemkot lebih dulu menuntaskan vaksinasi anak sebelum menjalankan kebijakan tersebut.

“Pelaksanaan PTM ini memang dibutuhkan, tapi demi memastikan keselamatan, proses vaksinasi anak usia 6-11 tahun hendaknya diselesaikan dahulu. Untuk SMP mungkin sudah siap, tapi SD kan baru setengah yang divaksin. Yang TK malah belum,” reaksi Tjutjuk.

Ia menambahkan, Pemkot Surabaya seharusnya juga mempertimbangkan mulai merebaknya varian Omicron dan melemahnya kualitas tracing satu pekan terakhir.

Jalan tengahnya, Tjutjuk menyebut, lebih baik dilaksanakan pembelajaran secara hybrid, menyesuaikan capaian vaksinasi sekolah sambil menunggu penuntasan vaksinasi.

“Makanya vaksinasi anak harus digenjot. Informasinya belum sampai 60%. Sekolah dan dinas terkait harus memastikan tercukupinya fasilitas penunjang Prokes. Libatkan satgas covid," ucap Tjutjuk.

PTM memang penting untuk menghindari dampak negatif pembelajaran jarak jauh seperti putus sekolah, learning loss, penurunan capaian belajar dan kekerasan anak.

“Sekali lagi, demi kelancaran dan keamanan PTM ini, saya harapkan semua pihak mulai dari murid, guru dan orang tua harus bekerja sama. Perlu evaluasi berkala PTM," tandas Tjutjuk.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved