KKB Papua
SITUASI Maybrat Sudah Aman dari KKB Papua, Ratusan Pengungsi Pulang dan Dijaga Ketat TNI-Polri
Situasi terkini Kabupaten Maybrat, Papua, saat sudah aman dari aksi teror KKB Papua. Ratusan Pengungsi Pulang dan Dijaga Ketat TNI-Polri.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Musahadah
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Musahadah
SURYA.co.id - Situasi terkini Kabupaten Maybrat, Papua, saat sudah aman dari aksi teror KKB Papua.
Ratusan pengungsi korban kebrutalan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) akhirnya bisa pulang ke rumahnya.
Kepulangan para pengungsi ini dijaga ketat oleh TNI-Polri untuk memberikan rasa aman dan nyaman.
Melansir dari laman kasuari18-tniad.mil.id, Anggota Kodim 1809/Maybrat Di pimpin Pasi Ter Kodim 1809/Maybrat Kapten Arh Untung Wiyono melaksanakan penjemputan pengungsi sebanyak 100 orang dari Kampung Kisor yang mengungsi ke beberapa kampong, Jum’at (24/12/2021).
100 orang pengungsi tersebut tersebar di Kampung Kroom sebanyak 85 orang, Kampung Kumurkek sebanyak 9 orang dan Kampung Fategomi sebanyak 6 orang.
Baca juga: Sosok Pria Jember yang Diisukan Sebagai Kiai NU Tewas Diserang KKB Papua, ini Kata Polisi dan PWNU
Pengungsi tersebut merupakan masyarakat yang melakukan perpindahan Pasca penyerangan dan pembantaian Posramil Kisor, Kampung Kisor Distrik Aifat Selatan kabupaten Maybrat, Papua Barat yang dilakukan KKB Papua pada 2 September 2021 silam.
Sebelumnya, pihak Kodim telah melakukan kordinasi dan pendataan ppengungsi, penyiapan alat transportasi dan personel pengawalan hingga penjemputan dan pengantaran serta memberikan bantuan tenaga untuk pembenahan rumah tinggal.
Pasiter pada kesempatan tersebut mengatakan kepada pengungsi bahwa wilayahnya saat ini aman sehingga tidak perlu khawatir untuk kembali ke rumah masing-masing karena dijaga oleh aparat TNI dan Polri.
“Kami pihak TNI dan Polri memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat dan menghimbau untuk kembali beraktifitas seperti sedia kala, kami memfasilitasi proses kembali ke rumah masing- masing”.
“Ini merupakan perintah Dandim Maybrat untuk melakukan terobosan pengembalian pengungsi, dan menindaklanjuti arahan serta pernyataan Pangdam XVIII/Kasuari beberapa waktu lalu bahwa wilayah Kisor aman.”tegasnya.
Sementara itu, Kadis Pertanahan Maybrat, Yustus Waiber memberikan arahan kepada pengungsi dan mengatakan bahwa sebentar lagi Natal tiba dan di rayakan sehingga pengungsi sebaiknya pulang dan merayakan natal di rumah masing-masing.
“Bahwa pemerintah daerah Kabupaten Maybrat menghimbau para pengungsi untuk kembali ke rumah masing-masing untuk menyambut Hari Raya Natal dan tahun baru”ujarnya.
Setelah tiba di Kampung Kisor Distrik Aifat Selatan selanjutnya warga masyarakat berdo’a di Gereja Fito Kampung Kisor, Distrik Aifat di pimpin oleh Pendeta Assem.
Turut hadir dalam penjemputan Kadis pendapatan Bpk. Melianus, Kadis pertanahan Bpk. Yustus Waiber, Dp3A perlindungan anak Yuliana Isir, Anggota Kodim 1809/Maybrat Babinsa, Anggota Polres Sorsel, Personel BKO Kodim dan Anggota Yonif 762 .
Ratusan Warga Maybrat Ngungsi karena Kebrutalan KKB Papua
Sebelumnya, TNI-Polri menjamin keamanan ratusan warga Kabupaten Maybrat yang saat sedang mengungsi akibat kebrutalan KKB Papua.
Melansir dari kasuari18-tniad.mil.id, Dandim 1809/Maybrat Letkol Inf Harry Ismail bersama Bupati Maybrat Bernard Sagrim bertemu langsung dengan para pengungsi di kantor Bupati Maybrat, Papua Barat, Senin (13/09/2021).
Pengungsi berjumlah kurang lebih seratus masyarakat yang diantaranya terdiri dari anak-anak dan lansia tersebut merupakan masyarakat Distrik Aifat Timur Tengah Kabupaten Maybrat, Papua Barat yang mengamankan diri sejak peristiwa penyerangan Pos Koramil Persiapan Kisor oleh KKB Papua.
Bupati menyampaikan agar tidak takut karena wilayah mereka saat ini dijamin keamanannya oleh aparat TNI dan Polri.
“Masyarakat sekalian jangan kaget karena Aparat TNI-Polri banyak di wilyah kita.
Aparat datang untuk memberikan perlindungan. Mereka menjaga dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab” ujarnya.
Ia menambahkan, tugas apparat selain mengamankan adalah untuk mencari pelaku, karena Indonesia merupakan negara hukum buka negara adat sehingga para pelaku harus mempertanggungjawabkan tindak kejahatannya.
Pada kesempatan tersebut juga didata warga yang akan kembali sebagai laporan ke kepala distrik sehingga memilki data yang valid.
“Untuk yang akan kembali akan diantar dan difasilitasi oleh pemerintah, untuk itu akan didata siap-siapa saja yang akan kembali” ungkap Bupati.
Sedangkan Dandim mengimbau agar para masyarakat kembali ke rumah masing-masing karena aparat sudah menjamin dan berjaga-jaga.
“Bapak Pangdam dan kapolda sudah menjamin keamanan di wilayah kita jadi jangan takut, aparat hadir untuk melindungi Bapak Ibu sekalian dan menjaga stabilitas daerah”tegasnya.
Sebelumnya setelah kejadian penyerangan, banyak masyaratakat sekitar posramil mengungsi dan tinggal dengan keluarga atau sanak famili yang mereka kenal di Kampung Aisio dan sekitarnya.
Bupati juga memerintahkan langsung kepada Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat untuk mendukung pemberian pelayanan kesehatan bagi pengungsi.
Pelayanan kesehatan ini juga dibantu oleh Babinsa.
Sedangka logistik para pengungsi tersebut didukung oleh Pemda Kabupaten Maybrat yang di siapkan di Kantor Kp. Tehak Kecil dan pelaksanaan kegiatan didukung Kramil Maybrat.
Dalam waktu dekat akan dilaksanakan pengembalian para pengungsi ke rumah masing-masing, setelah melakukan kordinasi dengan semua unsur baik dari Keamanan dan Pemda sendiri.

Salah satu warga Kabupaten Maybrat yang menjadi korban kebrutalan KKB Papua, memberikan pengakuan.
Warga berinisial JA tersebut menceritakan kepanikannya saat KKB Papua menyerang dan mengakibatkan 4 prajurit TNI gugur.
Melansir dari VOA Indonesia, JA mengatakan tiba-tiba saja terdengar tembakan pada dini hari yang membuat seluruh warga kampung panik, dan langsung lari ke hutan.
“Kami semua dengar jam 3 tepat itu bunyi senjata, kami bangun dari tepat tidur dan kami kaget ini apa.
Begitu saya bangun, sudah lihat kondisi kampung sudah kosong, orang semua lari masuk hutan. Saya punya anak, istri, anak baru usia 5 bulan dan kami lari masuk hutan,” kata JA.
Kisah itu dia ceritakan secara daring, dalam acara yang difasilitasi Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Pengungsi Maybrat, Sabtu (11/9).
Apa yang dipaparkan JA hanya sekelumit rangkaian peristiwa saat konflik di Maybrat mengalami eskalasi, setelah Pos Koramil Kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, diserang anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Serangan pada 2 September 2021 ini dipimpin oleh Silas Ki, yang kini masuk dalam daftar 17 nama Daftar Pencarian Orang (DPO) Polda Papua Barat.
Empat anggota TNI tewas dan dua luka-luka dalam insiden tersebut.
Operasi perburuan terhadap pelaku menimbulkan ketakutan masyarakat dan pengungsian ribuan orang di Maybrat.
Sejak tembakan dini hari itu, lanjut JA, mereka bertahan di hutan dan sebagian mengamankan diri ke area yang dinilai aman.
Mayoritas tidak berani keluar dari hutan karena menganggap kawasan itu lebih aman.
Bagi warga, kata JA, hutan memberi rasa aman dan juga persediaan makan, karena keberadaan kebun dan sagu.
Karena juga dalam kondisi panik, mereka tidak berpikir untuk mencari perlindungan ke kota.
“Dari hari kejadian sampai sekarang, kampungnya kosong. Gereja yang ada empat jemaat juga kosong,” kata JA.
Pater Bernat Baru, OSA dari Sekretariat Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) meminta semua pihak menyelesaikan konflik ini secara bermartabat.
Solusi damai yang dikedepankan, dan bukan kekerasan. Pater Bernat berpesan, kekerasan akan melahirkan kekerasan juga.
“Kekerasan akan meninggalkan rasa benci, rasa dendam, dan akan terjadi balas membalas. Kita orang beriman, satu-satunya cara bermartabat adalah berdialog, duduk, berbicara.
Masalah diselesaikan dengan hati, dengan cinta, dengan kasih dan kemanusiaan,” kata Pater Bernat.(*)