Breaking News:
Grahadi

Pemprov Jatim

Gubernur Khofifah Ajak Kader NU Percepat Transformasi Digital untuk Dakwah dan Pemberdayaan Ekonomi

Era society 5.0 mengubah semua lini kehidupan. Kader NU harus mampu melebur pada role model yang sedang berlangsung saat ini

Editor: Cak Sur
Humas Pemprov Jatim
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Lampung. 

SURYA.CO.ID, LAMPUNG - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 baru saja dibuka Presiden RI Joko Widodo. Banyak misi yang diemban pada hajatan tersebut. Selain memilih Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah, Muktamar di Provinsi Lampung ini menentukan langkah NU dalam menghadapi tantangan masa depan, termasuk menyongsong satu abad NU pada tahun 2026 yang akan datang.

Tantangan itu beragam, antara lain kekuatan persaudaraan, persatuan dan kesatuan serta transformasi digital yang sudah menjadi bagian dari tuntutan kehidupan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, persatuan dan kesatuan menjadi poin penting pada lingkup keumatan yang selanjutnya menjadi pondasi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam) harus diwujudkan. Ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia) juga harus dikembangkan.

"NU harus tetap menjadi perekat persaudaraan intern dan antar umat Islam, persaudaraan kebangsaan dan persaudaraan antar sesama manusia bahkan tidak kalah pentingnya. Yaitu mewujudkan ukhuwah nahdhiyah atau persaudaraan intern warga NU," kata Gubernur Khofifah, Rabu (22/12/2021).

NU harus tetap menjadi motor penguatan persatuan dan kesatuan di Indonesia. Sebab, persatuan dan kesatuan merupakan modal utama yang mengiringi pembangunan bangsa dan negara.

Perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu menjelaskan, Indonesia memiliki kelebihan dibanding negara lain. Lebih dari 700 suku yang bisa hidup selaras dan berdampingan. Model kehidupan yang harus dipertahankan.

"NU harus menjadi bagian dalam mempertahankan role model dalam membangun soliditas dan solidaritas di antara keberagaman yang sudah ada," ucapnya.

Tantangan lain yang sudah ada di depan mata adalan transformasi digital. Mantan Menteri Sosial itu mengungkapkan, pola kehidupan saat ini yang masuk era society 5.0. Yakni perilaku di mana digitalisasi menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Kondisi ini berbeda dengan masa sebelumnya, digitalisasi hanya pendamping manusia dalam menjalani kehidupan. Tetapi ke depan digitalisasi menempati peran signifikan dalam berbagai kehidupan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved