Femail Fair

Pertahankan Eksistensi Bisnis Keluarga, Owner Griya Amirah Terus Inovasi di Tengah Pandemi Covid-19

Menjual produk fashion kain batik, membuat owner Griya Amirah harus berjuang ekstra di tengah pendemi Covid-19

Penulis: Luthfi Husnika | Editor: Fatkhul Alami
Surabaya.Tribunnews.com/Sugiharto
Rahmaniatun selaku Owner Griya Amirah saat menunjukkan berbagai produk kain batik shibori di Female Fair Ciputra World Surabaya, Sabtu (18/12/2021). 

Penulis: Luthfi Husnika | Editor: Fatkhul Alami

SURYA.co.id | SURABAYA - Berjuang di tengah pandemi memberikan kesan tersendiri bagi para pelaku usaha, termasuk UMKM. Menurunnya jumlah pendapatan hingga sulitnya mendapatkan bahan baku produksi menjadi tantangan tersendiri.

Seperti yang dialami oleh Griya Amirah, UMKM asal Kota Surabaya ini harus struggle untuk bertahan di tengah pandemi. Menjual produk fashion kain batik, membuat owner Griya Amirah harus berjuang ekstra di tengah pendemi Covid-19.

"Pandemi Covid-19 cukup membuat hentakan bagi Griya Amirah. Dari yang sebelumnya berani stok banyak, semenjak pandemi tidak berani. Karena permimtaan menurun. Sedangkan untuk membuatnya juga membutuhkan cukup biaya," ungkap Rahmaniatun, salah satu owner saat ditemui di pameran Female Fair yang diselenggarakan oleh TribunJatim Network dan Harian Surya, Sabtu (18/12/2021).

Rahmaniatun menuturkan, Griya Amirah yang biasanya menjual banyak lembaran kain batik maupun baju yang sudah jadi akhirnya tak berani menyimpan banyak stok.

Ia dan sang kakak, Fatimah terus mencoba berinovasi dan mengikuti permintaan pasar supaya Griya Amirah bisa terus bertahan di tengah gempuran pandemi.

Akhirnya, kakak beradik tersebut memberanikan diri mengambil pesanan berupa alat pelindung diri (APD) yang sedang banyak dibutuhkan. Tak cuma itu, mereka juga mencoba membuat masker-masker yang menarik untuk ditawarkan.

"Sampai kami terima pesanan APD, face shield dan coba membuat masker-masker yang menarik. Alhamdulillah dari sana pemasukan tetap ada. Tapi tetap produk utama kami masih sulit terjual. Lebih banyak masker. Kami seriusi karena pesanan masker bisa sampai ribuan," ungkap Rahmaniatun saat ditemui di sela pameran.

Memasuki penghujung tahun 2021, Rahmaniatun mengatakan penjualan Griya Amirah semakin meningkat. Meskipun tak sebanyak dulu sebelum pandemi. Ia kembali fokus untuk menggarap produk utama dengan sentuhan-sentuhan baru.

"Sekarang tidak hanya batik tulis atau kombinasi, kami juga buat batik dengan metode shibori ala Jepang. Look dari metode shibori ini terlihat lebih luwes dan kekinian, sehingga banyak disukai terutama anak muda," Rahmaniatun menguraikan.

Menggunakan tekni shibori ini, Rahmaniatun mengaku bisa memproduksi 10-15 kain setiap harinya. Ia juga membuat beberapa produk ecoprint dengan pewarnaan alami dari alam.

"Semoga dengan Griya Amirah ikut pameran (Female Fair) ini bisa meningkatkan penjualan. Semoga produk kami juga semakin dikenal masyarakat luas," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved