Breaking News:

Berita Lamongan

Penghuni Mendadak Menghilang, Eksekusi Dua Bangunan di Lamongan Berlangsung Tanpa Drama

Tim juru sita tanpa mendapat perlawanan saat mengeksekusi tanah di mana berdiri rumah dan ruko seluas 156 meter persegi

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Deddy Humana
surya/hanif manshuri
Barang-barang dari dua bangunan yang dieksekusi di Sukodadi Lamongan dikeluarkan tanpa ada perlawanan, Kamis (9/12/2021). 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Eksekusi bangunan yang disengketakan di pengadilan biasanya diwarnai keributan atau perlawanan dari penghuni. Tetapi eksekusi dua bangunan di Jalan Sumoharjo 38 Desa/Kecamatan Sukodadi Lamongan, Kamis (9/12/2021), justru berjalan lancar.

Saat eksekusi berupa pengosongan ruko dan warung makan oleh juru sita Pengadilan Negeri (PN) itu, tidak ada penghuni yang melawan. Karena beberapa saat sebelum eksekusi, pemilik bangunan diduga sudah pergi tanpa pamit, bahwa semua isi warung dibiarkan begitu saja.

Eksekusi dengan penjagaan ketat aparat Polres dan Kodim 0812 Lamongan itu bahkan berjalan dengan cepat. Tim juru sita tanpa mendapat perlawanan saat mengeksekusi tanah di mana berdiri rumah dan ruko seluas 156 meter persegi tersebut.

Sebelum eksekusi, juru sita PN Lamongan, Asan membacakan keputusan tepat di depan bangunan ruko milik Roy Marta sesuai dengan Sertifikat Hak Milik nomor 465 tersebut. Usai membacakan putusan PN, tim juru sita masuk ke dalam warung dan mencari pemilik.

Namun setelah pencarian selama 10 menit, tim juru sita tidak menemukan seorang pun di dalamnya. "Tidak ada orangnya, belum tahu persis kemana orangnya," kata Asan.

Juru sita akhirnya memerintahkan pekerja bangunan untuk mengeluarkan semua barang dari dalam dua bangunan tersebut. Semua isi ruko dan warung dititipkan di rumah salah satu warga yang tidak jauh dari lokasi eksekusi.

Kuasa Hukum Suamiasi, Wellem Mintarja mengaku bersyukur eksekusi rumah yang sudah sah milik kliennya itu berjalan dengan lancar.

"Eksekusi ini kita mintakan ke PN Lamongan pada 4 Agustus 2020 dan Alhamdulillah hari ini akhirnya eksekusi dilakukan," kata pengacara asal Paciran Lamongan itu.

Disebutkan Wellem, kliennya sebagai pemilik resmi tanah dan bangunan, setelah memenangkan lelang pada 24 April 2018, yang dilakukan Pejabat Lelang dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan lelang (KPKNL) Surabaya.

Lelang eksekusi itu sesuai dengan Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan (UUHT) atas barang tidak bergerak berupa sebidang tanah pekarangan di atasnya berdiri bangunan rumah dengan Sertifikat Hak Milik Nomor 465 atas nama Roy Marta dengan luas 156 meter persegi.

Setelah proses lelang, pada 27 April 2018, KPKNL Surabaya telah mengeluarkan surat keterangan bahwa sebidang tanah pekarangan tersebut telah laku terjual dengan harga Rp 310 juta yang dimenangkan oleh Sumiasih, warga Gadukan Utara 6-A/1,RT/RW 008/005, Kelurahan
Morokrembangan, Krembangan Surabaya.

Upaya kemanusiaan oleh pihak pemenang atau penggugat, kata Wellem, sudah pernah dilakukan, agar yang menempati rumah mengosongkan dengan uang santunan Rp 50 juta. Namun upaya itu ditolak, dan rumah tetap ditempati sampai dieksekusi. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved