Berita Situbondo

Cegah Tindak Kekerasan Akibat Anak Kecanduan Gadget, DPPPA Situbondo Libatkan Ormas dan Guru BK

Imam Hidayat mengatakan, sosialisasi digelar tanpa jadwal, dan karena terinspirasi tindak kekerasan, khususnya pada anak.

Penulis: Izi Hartono | Editor: Deddy Humana
surya/izi hartono
Sosialisasi pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak di Pemkab Situbondo, Selasa (7/12/2021). 

SURYA.CO.ID, SITUBONDO - Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih sering terjadi di beberapa daerah, bahkan juga di Kabupaten Situbondo. Untuk menekan kejadian itu, Pemkab Situbondo melalui Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPPA) menggelar sosialisasi pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak, Selasa (7/12/2021).

Dengan tema "Lindungi Anak dari Bahaya Adiktif Internet dan Game Online", sosialisasi yang digelar di ruang Baluran Pemkab Situbondo itu, melibatkan organisasi NU, Muhammadiyah, Fatayat serta guru BK dan Forum Anak Situbondo.

Kepala DPPPA Situbondo, Imam Hidayat mengatakan, sosialisasi digelar tanpa jadwal, dan karena terinspirasi tindak kekerasan, khususnya pada anak. "Waktu itu diminta kegiatan ini melibatkan psikiater, pengambil kebijakan dan kepolisian," ujar Imam kepada wartawan.

Dikatakan Imam, kekerasan anak merupakan kasus nasional dan sudah ditangani kepolisian, yang terbaru adalah anak yang mengalami pelecehan seksual akibat terdampak game online di satu daerah.

"Pelaku sudah ditangkap, tetapi kejadian ini bukan di Situbondo melainkan di luar kota. Ini kita lakukan antisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi di Situbondo," kata Imam.

Alasannya melibatkan guru BK di sekolah, karena mereka lebih dekat dan bersentuhan terhadap anak anak dan edukasinya akan lebih cepat.

"Selama ini di Situbondo tidak ada, akan tetapi yang jelas kekerasan pada anak itu ada. Tetapi dampak kecanduan game online dan gadget yang memicu kekerasan belum ada," jelasnya.

Sementara Sekdakab Situbondo, Syaifullah mengatakan, untuk mengatasi ketergantungan anak pada gadget itu, harus ada aturan pembatasan terhadap anak. "Misalnya saja boleh main HP, tetapi setelah makan dan dibatasi paling lama dua jam. Karena itu (bermain HP terlalu lama) tidak baik untuk mata," kata Syaifullah.

Selain itu, anak anak yang bermain HP harus diberi ruang terbuka atau ruang keluarga, sehingga orangtua lebih mudah mengawasi. "Kita khawatir kalau main HP sendirian, akan membuka situs macam-macam yang menpengaruhi mentalnya," tambah Syaifullah.

Dikatakan, untuk menciptakan anak kreatif maka orangtua dapat mengajak anaknya membuka konten-konten yang positif. "Membuat TikTok atau apalah yang bisa membuat anak sibuk," tukasnya.

Terpisah, salah seorang pemateri sosialisasi, dr Dewi Prisca mengatakan, ciri anak yang kecanduan HP terlihat pada perubahan psikisnya. Perubahan itu antara lain, anak akan mudah marah, emosi, sensitif serta kurang konsentrasi dan tugas sekolah sering terbengkalai.

"Dampak sosialnya, biasanya anti sosial dan suka menyendiri. Itu tanda tanda yang paling jelas kepada anak anak kita," kata Dewi.

Menurutnya, jika diketahui secara dini maka akan lebih baik membawa anak itu kepada psikiater, sehingga langsung mendapatkan penanganan. "Biasanya kalau anaknya sudah parah (kecanduan), orangtua langsung membawanya ke dokter," pungkasnya. *****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved