Breaking News:

Berita Surabaya

KRONOLOGI Nama Penyandang Disabilitas di Surabaya Dicatut dalam Penerima Manfaat

Aktifitas pencatutan nama dan pemalsuan data para penyandang disabilitas itu terjadi berulang dan sudah bertahun-tahun lamanya.

Penulis: Firman Rachmanudin | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Firman Rachmanudin
Endro Suseno salah satu korban yang mengaku namanya dicatut sebagai penerima bantuan namun tidak dikonfirmasi, Kamis (2/12/2021). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Endro Suseno (47) warga Surabaya bersama beberapa temannya melaporkan dugaan pemalsuan data dan pencatutan nama penyandang disabilitas penerima manfaat di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (2/12/2021).

Ia menyebut, jika namanya dicatut saat penerimaan bantuan sosial berupa sembako di sebuah restoran di Kacapiring beberapa waktu lalu.

Endro memastikan, ia tidak pernah mendapat konfirmasi terkait permintaan bantuan yang menggunakan namanya dengan meminta bantuan kursi roda dan komputer, padahal Endro merupakan penyamdang disabilitas dengan kelumpuhan hanya pada tangan kirinya.

"Saya tidak diundang, tapi ada nama saya tertera di sana. Itupun tidak ada konfirmasi. Permohonan bantuannya itu kursi roda sama komputer, padahal di sini kaki saya tidak lumpuh. Saya kan disabilitas satu tangan sebelah kiri saja yang lumpuh," ungkap Endro.

Selain Endro, ada pula Devi Risko Juniharjo (44) warga Surabaya yang juga dicatut namanya diduga oleh Forum Komunikasi Disabilitas Indonesia (Forkodi) selaku panitia pelaksana kegiatan.

Devi yang mengalami polio itu dicatut namanya untuk mendapat bantuan kaki palsu dan kompor gas.

"Saya ini memang polio. Namun masih bisa berjalan, kaki saya masih bisa digunakan. Tapi kenapa kok ada list permohonan bantuan kaki palsu. Itupun tidak ada konfirmasi ke saya," sebut Devi.

Sementara itu, Hari Kurniawan, kuasa hukum para korban dari LBH Disabilitas menyebut, aktifitas pencatutan nama dan pemalsuan data itu terjadi berulang dan sudah bertahun-tahun lamanya.

Beberapa kasus bahkan juga terjadi tak hanya di Surabaya.

Hal itu membuat para korban berani bersuara agar hal semacam itu tidak lagi terulang ke depan.

Baca juga: Puluhan Penyandang Disabilitas di Surabaya Laporkan Dugaan Pemalsuan Data untuk Meminta Sumbangan

"Yang jadi persoalan karena mereka ini saling kenal. Antara korban dan pengurus komunitas atau organisasi ini saling kenal. Sama-sama penyandang disabilitas. Karena masifnya pencatutan tersebut maka beberapa di antaranya memberanikan diri melapor," sebut Hari.

Dari informasi yang dikumpulkan Hari, setidaknya ada beberapa pencatutan nama dan pemalsuan data yang diduga dilakukan oleh pihak Forkodi, yakni mencatut nama calon penerima manfaat tanpa konfirmasi, tidak adanya transparasi penerimaan bantuan dan ada dua nama tercatat yang ternyata orangnya sudah meninggal.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved