Breaking News:

Berita Jember

Beberapa Desa di Jember Dipetakan Rawan Konflik saat Pilkades Serentak

Pilkades yang rawan konflik itu ada di 9 desa antara lain Desa Paseban Kecamatan Kencong, Desa Slateng Kecamatan Ledokombo, juga Desa Banjarsari Kecam

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Rudy Hartono
surya/sri wahyunik
Polres Jember Rabu (24/11/2021) gelar apel pengamanan Pilkades Serentak di 51 Desa se-Kabupaten Jember 

SURYA.co.id | JEMBER – Sejumlah desa yang menggelar Pilkades di Jember teridentifikasi rawan terjadi konflik. Berdasarkan data yang didapatkan Surya, Pilkades yang rawan konflik itu ada di 9 desa antara lain Desa Paseban Kecamatan Kencong, Desa Slateng Kecamatan Ledokombo, juga Desa Banjarsari Kecamatan Bangsalsari.

Ketua Komisi A DPRD Jember Tabroni meminta ada pengawasan dan penjagaan ketat di desa-desa yang teridentifikasi berpotensi rawan konflik. Komisi A DPRD Jember merupakan mitra kerja Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan pemerintahan desa yang berkaitan dengan Pilkades.

"Penjagaan memang proporsional, namun untuk desa-desa yang teridentifikasi rawan konflik, harus ada penjagaan lebih, lebih ketat. Pengawasan, pemantauan, juga penjagaan. Ada konsentrasi petugas pengamanan di situ," ujar Tabroni kepada Surya, Rabu (24/11/2021).

Menurut politisi PDI Perjuangan itu, ada beberapa penyebab kenapa Pilkades rawan menimbulkan konflik. Penyebab itu antara lain, ada latar belakang bibit konflik sebelum Pilkades terjadi. Bibit konflik itu bisa dipicu persoalan di luar Pilkades seperti masalah sosial, ekonomi, atau lingkungan. Bibit konflik juga bisa terjadi dalam rangkaian Pilkades.

"Jadi terjadi karena adanya 'history' atau sejarah sebelumnya. Seperti contoh Desa Paseban Kecamatan Kencong. Bibit konfliknya itu bermula dari persoalan tambang di situ, ada yang pro namun banyak juga yang kontra. Isu ini masuk dalam ranah Pilkades," ujar Tabroni.

Di desa tersebut, ada calon yang tidak setuju tambang, namun ada juga yang terindikasi setuju tambang. Di sisi lain, isu tambang kini menjadi isu sensitif di Desa Paseban Kecamatan Kencong. Isu tambang yang bergulir di salah satu desa di pesisir selatan Jember itu adalah tambang pasir besi.

Tabroni melanjutkan, ada juga bibit konflik yang terjadi dalam rangkaian Pilkades. Dia mencontohkan Desa Slateng Kecamatan Ledokombo.

"Ada salah satu kandidat yang tidak lolos, kemudian menggugat ke PN Jember. Tentunya ini juga harus diantisipasi, jangan sampai pendukung kandidat yang tidak lolos ini melakukan sesuatu yang tidak diinginkan," tegas Tabroni.

Potensi konflik juga berpotensi datang dari desa yang hanya dua orang calon kepala desa. Desa Banjarsari Kecamatan Bangsalsari, contohnya. Di Pilkades Banjarsari hanya diikuti oleh dua orang Cakades.

"Pilkades yang calonnya hanya dua orang, alias head to head itu juga rawan konflik. Nah, hal-hal inilah yang harus dipantau betul, dijaga, dan diantisipasi juga konflik tidak terjadi," tegasnya.

Pilkades Jember bakal digelar serentak pada Kamis (25/11/2021). Ada 59 desa yang menggelar Pilkades, tersebar di 25 kecamatan.

Jumlah Cakades sebanyak 214 orang, terdiri atas 190 orang laki-laki, dan 24 orang perempuan. Dari 214 orang Cakades itu, 41 orang di antaranya adalah petahana.

Pemilih bakal menyalurkan hak pilih mereka di 905 tempat pemungutan suara. Satu TPS hanya untuk maksimal 500 orang pemilih. Karenanya, dalam Pilkades 2021 ini, bakal ada banyak TPS Pilkades di satu desa.

Cara ini dipakai sebagai salah satu cara penerapan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19. Mengingat Pilkades saat ini digelar masih di masa pandemi.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved