Breaking News:

Berita Jember

Jadi Tulang Punggung Keluarga Tapi Menista Keponakan Sendiri, Dosen Unej Jember Ini Divonis 6 Tahun

Hal yang meringankan adalah RH tidak pernah dihukum, sopan, juga menjadi tulang punggung perekonomian keluarga

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID/Sri Wahyunik
Aksi Koalisi Tolak Kekerasan Seksual Jember di depan PN Jember, Kamis (14/10/2021) silam 

SURYA.CO.ID, JEMBER - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember menjatuhkan vonis enam tahun penjara untuk Dosen FISIP Universitas Jember, RH, dalam persidangan lanjutan di PN Jember, Rabu (24/11/2021) sore. Majelis hakim menilai RH terbukti bersalah melakukan tindakan tersebut kepada keponakannya sendiri, yang saat itu masih berusia 16 tahun.

Majelis hakim menyebut RH terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, kebohongan, dan membujuk anak untuk melakukan perbuatan cabul, sesuai dengan dakwaan alternatif kedua yang disampaikan jaksa penuntut umum. Dakwaan alternatif kedua itu adalah Pasal 82 UU Perlindungan Anak.

"Mengadili, terdakwa atas nama tersebut di atas, telah terbukti secara sah dan meyakinan melakukan tindak kekerasan, atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan serangkaian kebohongan, membujuk anak melakukan perbuatan cabul. Menjatuhkan pidana penjara selama 6 tahun dan denda sejumlah Rp 50 juta, dan sesuai ketentuan jika denda tidak dibayar maka ditambah penjara kurungan selama 4 bulan," ujar Ketua Majelis Hakim, Totok Yanuarto.

Majelis hakim juga menetapkan RH untuk tetap ditahan. Masa penahanan dikurangi dengan masa tahanan, serta membayar biaya persidangan sebesar Rp 5.000.

Majelis hakim juga menyampaikan pertimbangan yang memberatkan dan meringankan. Pertimbangan yang memberatkan adalah RH sebagai seorang pendidik seharusnya menjadi tauladan."Hal yang memberatkan, sebagai seorang pendidik, terdakwa seharusnya menjadi tauladan. Terdakwa juga berbelit-belit," ujar anggota majelis hakim, Sigit Triatmojo.

Pertimbangan lain adalah, vonis yang dijatuhkan bukan untuk pembalasan namun menjadikan RH selaku pendidik supaya lebih baik di kemudian hari, patuh terhadap perundangan, juga tidak mengulangi perbuatannya.

Vonis yang dijatuhkan juga untuk mencegah supaya orang lain tidak meniru tindak kejahatan tersebut, serta memberi perlindungan dan penegakan hukum untuk masyarakat. Hal yang meringankan adalah RH tidak pernah dihukum, sopan, juga menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.

Vonis majelis hakim ini lebih ringan dua tahun dibandingkan tuntutan JPU Adik Sri Sumarsih. Tuntutan JPU adalah 8 tahun penjara, dan denda Rp 50 juta, subsider enam bulan kurungan.

Vonis di tingkat pertama (PN) ini menjadi akhir dari proses hukum yang diajukan oleh orangtua korban pencabulan tersebut sejak April lalu. April lalu, ibu korban melapor ke Polres Jember perihal dugaan pencabulan yang dilakukan RH kepada korban yang tinggal di rumahnya.

Laporan itu bergulir ke Kejaksaan Negeri Jember, hingga akhirnya masuk ke persidangan tingkat pertama di PN Jember. Terhadap vonis tersebut, JPU Adik Sri Sumarsih menyatakan akan pikir-pikir.

Sedangkan RH yang hadir secara daring di persidangan itu menyatakan mengikuti apa kata penasehat hukumnya. "Apa kata penasehat hukum saya saja," ujar RH ketika ditanya hakim.

RH mengikuti persidangan dari Lapas Kelas IIA Jember. Sedangkan majelis hakim, JPU, dan penasehat hukum hadir di lokasi sidang yakni Ruang Candra PN Jember.

Penasehat hukum RH, M Faiq Assiddiqi mengatakan masih akan berkomunikasi dengan RH dan keluarganya. "Kami akan memberikan saran dan pertimbangan ke klien kami, ada beberapa. Akan segera kami sampaikan," ujar Faiq.

Faiq mengaku bersedih atas putusan majelis hakim hari ini. Karena menurutnya, berdasarkan pembuktian di persidangan, dakwaan yang disajikan JPU, juga berkas berita acara pemeriksaan oleh penyidik yang telah dikaji oleh tim penasehat hukum, tim berkeyakinan RH bisa bebas dari dakwaan. "Karena menurut kami (dakwaannya) lemah," imbuh Faiq.

Namun ternyata majelis hakim memiliki pertimbangan lain sehingga akhirnya menjatuhkan vonis 6 tahun penjara untuk RH. Penasehat hukum belum bisa menyatakan apakah menerima putusan itu, atau akan mengajukan banding. Mereka memiliki waktu tujuh hari untuk menentukan sikap. *****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved