Breaking News:

Berita Nganjuk

Toko dan Warung di Nganjuk Diajak Berantas Peredarannya, Bea Cukai Jelaskan Ciri-Ciri Rokok Ilegal

Dijelaskan Ida, sosialisasi itu terselenggara berkat pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT).

Penulis: Ahmad Amru Muiz | Editor: Deddy Humana
surya/ahmad amru muiz
Pemeriksa Bea dan Cukai Pertama Kantor Bea Cukai Kediri, Hendratno Argosasmitopius sosialisasi mengenal ciri-ciri rokok ilegal di Nganjuk. 

SURYA.CO.ID, NGANJUK - Sosialisasi untuk menghadang peredaran rokok ilegal atau tanpa cukai, gencar dilakukan Pemkab Nganjuk. Bekerjasama dengan Kantor Bea Cukai, kali ini sosialisasi dilakukan terhadap para pemilik toko atau warung kelontong di wilayah Kecamatan Berbek, Selasa (23/11/2021).

Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Nganjuk, Ida Sobihatin mengatakan, tujuan sosialisasi tersebut adalah mengedukasi dan menyebarluaskan informasi tentang bagaimana mengenali ciri-ciri rokok ilegal dan bahaya mengedarkannya.

"Kami berharap pelaksanaan sosialisasi terhadap perwakilan masyarakat, yakni para pemilik toko kelontong dan warung, dapat disebarluaskan kepada masyarakat lain. Ini dalam rangka mendukung upaya pemerintah untuk menurunkan dan menekan peredaran rokok ilegal," kata Ida, Selasa (23/11/2021).

Dijelaskan Ida, sosialisasi itu terselenggara berkat pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT). Untuk itu, para pemilik toko kelontong dan warung diajak ikut menggempur rokok ilegal. "Rokok tanpa cukai atau memakai cukai palsu bisa merugikan negara," ucap Plt Camat Berbek tersebut.

Sementara Pemeriksa Bea dan Cukai Pertama Kantor Bea Cukai Kediri, Hendratno Argosasmitopius mengatakan, masyarakat dapat mengenali rokok ilegal yang beredar. Yakni mengenali ciri-ciri rokok ilegal. Antara lain rokok polos atau rokok tanpa pita cukai.

Selanjutnya, ungkap Hendratno, rokok dengan pita cukai palsu atau tidak menggunakan pita cukai yang diproduksi oleh pemerintah sebagai pelunasan cukai. Kemudian rokok dengan pita cukai bekas yaitu menggunakan pita cukai bekas dengan menempelkan kembali dari bungkus rokok lain ke bungkus rokok baru.

Serta rokok dengan pita cukai salah personalisasi yaitu pita cukai salah tidak sesuai peruntukannya.

"Rokok ilegal tersebut merugikan negara dan tidak berkontribusi pada DBHCT. Sedangkan DBHCHT diperuntukan untuk kesehatan, kesejahteraan masyarakat, dan juga untuk sosialisasi di bidang cukai atau pemberantasan rokok ilegal," kata Hendratno.

Sedangkan bagi pelanggar rokok ilegal tanpa cukai, ungkap Hendratno, dapat dikenai sanksi sesuai dengan Undang-Undang (UU) No 39/2007. Yakni pidana penjara satu sampai lima tahun.

"Juga bisa dikenakan denda dua kali dari cukai yang harus dibayarkan. Semoga masyarakat semakin paham tentang cukai, dan dapat bersama-sama memberantas barang kena cukai ilegal," tutur Hendratno. *****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved