Breaking News:

Berita Gresik

LSM Ecoton Temukan Kandungan Air Sungai di Pulau Jawa Tercemar Mikroplastik

LSM Ecoton menemukan semua sample air sungai pulau yang diuji menunjukkan ada mikroplastik

Penulis: Sugiyono | Editor: Rudy Hartono
ist Ecoton
Tim peneliti di Lembaga Ecoton menyaksikan layar monitor yang menunjukkan adanya mikroplastik, Senin (22/11/2021). 

SURYA.co.id | GRESIK - LSM Ecoton menemukan semua sample air sungai pulau yang diuji menunjukkan ada mikroplastik, Senin (22/11/2021).  Dikhawatirkan, sungai air di Jawa digunakan sebagai sumber irigasi yang mensuplai lebih dari 50 persen stok pangan nasional. Ini ada ancaman serius berupa mikroplastik yang mencemari sungai-sungai di Pulau Jawa.

Eka Chlara Budiarti (26) peneliti lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah (Ecoton), mengatakan, seperti di kali Brantas, Bengawan Solo, Citarum dan Ciliwung adalah sungai nasional yang perannya vital bagi Indonesia.

“Selain sebagai bahan baku PDAM, sungai air di Jawa juga digunakan sebagai sumber irigasi yang mensuplai lebih dari 50 persen stok pangan nasional. Jadi, saat ini ada ancaman serius berupa mikroplastik yang mencemari sungai-sungai di Pulau Jawa," kata Eka Chlara, yang juga  alumni Fakultas Kimia Universitas Diponegoro Semarang.

Lebih lanjut Eka Chlara menambahkan, sejak awal 2021 Ecoton bersama tim relawan sungai Nusantara telah melakukan uji sample air sungai di Indonesia dan melihat kandungan mikroplastiknya.

“Semua sample yang diambil di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara dan Jawa menunjukkan semua sample mengandung mikroplastik,” imbuhnya.

Dari banyaknya mikroplastik tersebut, ancaman kesehatan dan pangan kandungan mikroplastik dalam air  akan masuk kedalam rantai makanan melalui air, plankton, benthos, ikan air tawar, ikan laut dan masuk kedalam tubuh manusia. Padahal, mikroplastik masuk dalam kategori EDC (Endocrine disruption Chemical) bahan kimia pengganggu hormon.

"Mikroplastik mengandung bahan tambahan seperti phtalat, bhispenil A, alkhyl phenol, pigmen warna dan anti detarjen. Semua bahan kimia tambahan ini bersifat karsinogenik dan mengganggu hormon," katanya.

Lebih lanjut Eka Chlara menjelaskan, bahwa gangguan hormon akibat senyawa EDC akan mendorong gangguan reproduksi, gangguan pertumbuhan, menopause lebih awal dan menstruasi lebih awal. Bahkan, saat ini ditemukan adanya penurunan kualitas sperma dan indikasi intersex.

“Maka, Pemerintah harus mengendalikan polusi plastik dan masyarakat harus mulai menghentikan penggunaan plastik sekali pakai, seperti sedotan, tas kresek, styrofoam, botol air minum sekali pakai dan sachet, agar volume sampah plastik bisa berkurang," katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved