Breaking News:

Berita Surabaya

Webinar Satkaara dan RGBK: Penting Siapkan Psikologi Guru dan Murid untuk PTM Pasca Pandemi

Kesuksesan pembelajaran daring sangat tergantung dari kesiapan penyelanggara, baik sekolah, guru, orangtua dan terutama murid itu sendiri.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: irwan sy
Satkaara
Kegiatan webinar nasional yang digelar Satkaara bersama RGBK tentang Basic Counseling Skills untuk mengatasi kecemasan murid di awal PTM. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kesuksesan pembelajaran daring sangat tergantung dari kesiapan penyelanggara, baik sekolah, guru, orangtua dan terutama murid itu sendiri.

"Selama ini yang terjadi, di awal PTM (Pertemuan Tatap Muka) guru dan sekolah cenderung fokus mengejar materi-materi yang tertinggal selama PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Padahal yang jauh lebih penting adalah kondisi emosional dan psikologikal murid," kata Kepala Bagian Psikologi Klinis Universitas Katholik Atma Jaya sekaligus Psikolog, Nanda Rossalia MPsi.

Hal itu diungkapkan Nanda saat menjadi salah satu narasumber dalam Webinar yang digelar dalam rangka menyambut hari guru oleh Cetta Satkaara dan Rumah Guru BK (RGBK), Sabtu (20/11/2021).

Hari Guru akan jatuh pada 25 November mendatang.

Lebih lanjut Nanda menyebutkan, kecemasan akademik siswa perlu diatasi dengan peran sinergis dari banyak pihak, tidak hanya dari murid itu sendiri.

"Guru tentunya memiliki porsi yang signifikan dalam membantu murid mengatasi kecemasannya. Para guru harus sigap melihat gejala gejala emosi negatif dengan melakukan konseling secara efektif. Jadi lihat dan tes dahulu bagaimana kondisi murid-muridnya,” beber Nanda didepan 286 guru terpilih dari kalangan SD, SMP maupun SMA tersebut.

Dalam paparannya, Nanda menjelaskan guru sebagai pendamping harus berperan menjadi konselor.

Artinya, mampu mendengarkan secara aktif yaitu memberikan kesempatan bagi murid untuk mengeluarkan pikiran dan perasaannya, lalu memberikan umpan balik.

Nanda juga menekankan para guru untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat murid enggan terbuka soal kecemasannya.

"Mulai dari argumentasi, menggurui sampai menghakimi. Konselor yang baik juga harus memiliki empati, ketulusan (Genuine) serta sikap menghargai nilai-nilai yang dimiliki murid apa adanya (Unconditional Positive Regard)," lanjut Nanda.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved