Berita Malang Raya

Siswi SD Dirudapaksa lalu Dianiaya Ramai-ramai saat Tinggal di Panti Kota Malang, Ibu ART, Ayah ODGJ

Mawar menjadi korban rudapaksa seorang pria dewasa dan penganiayaan sejumlah remaja di sekitar lokasi tempat tinggalnya. 

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Musahadah
ilustrasi
Seorang siswi SD di Kota Malang menjadi korban rudapaksa dan penganiayaan. Kasusnya kini ditangani Polres Malang Kota. 

SURYA.CO.ID, MALANG - Nasib malang dialami Mawar (bukan nama sebenarnya), siswa kelas VI sekolah dasar swasta di Kota Malang.

Mawar menjadi korban rudapaksa seorang pria dewasa dan penganiayaan sejumlah remaja di sekitar lokasi tempat tinggalnya. 

Kasus ini terungkap setelah beredar video penganiataan di media sosial beberapa hari terakhir. 

Dalam video berdurasi 2 menit 29 detik itu tampak remaja putri dipukuki beberapa teman perempuannya. 

Saat itu sang korban memakai seragam sekolah berwarna biru.

Selain tiga gadis yang memukuli korban, juga tampak seirang pemuda di video tersebut.

Baca juga: Pihak Riri Khasmita Berikan Serangan Balik, Nirina Zubir Ungkap Soal Perampas Hak yang Mengancam

Bukannya menolong korban, pemuda itu justru membantu tiga gadis remaja melakukan aksi perundungan (bullying) kepada korban.

Kapolresta Malang Kota, AKBP Budi Hermanto membenarkan adanya kejadian tersebut.

"Kemarin, baru kita terima Laporan Polisi (LP). Dan hari ini, saksi- saksi dan korban akan kita periksa. Untuk mengetahui, kejadian sebenarnya seperti apa. Dengan video yang sudah viral, kita lihat kejadian sebenarnya seperti apa," ujarnya kepada TribunJatim.com, Senin (22/11/2021).

Dia memastikan akan memberikan atensi penuh terhadap kasus dugaan perundungan (bullying) tersebut.

"Masih kita dalami dan kita segerakan menjadi atensi, karena ini perundungan terhadap anak atau kasus bullying. Hal ini sangat menciderai proses pendidikan di Kota Malang," jelasnya.

Pria yang akrab disapa BuHer ini mengungkapkan dalam pemeriksaan tersebut, pihaknya juga harus mendalami terhadap hasil visum korban.

"Dari video sudah terlihat beberapa orang yang melakukan, sudah jelas. Namun, kami harus mendalami terhadap visum (hasil visum), apakah ada kekerasan kepada korban baik benda keras maupun lain-lain. Terus yang kedua, bullying ini mengakibatkan psikis orang (korban) terganggu. Oleh karena itu, harus ada forensik psikolog yang bisa menilai. Dan itu butuh proses, baik dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Dan nanti akan kami sampaikan ke publik, terkait progres perkara ini," bebernya.

Meski begitu, BuHer enggan membeberkan jumlah saksi yang diperiksa atas kasus tersebut.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved