Breaking News:

Berita Gresik

Siswi SMPN 2 Gresik Berorasi di COP 26 Glasgow, Tolak Negara Maju Ekspor Sampah Plastik ke Indonesia

Sedangkan terkait aksinya itu, Nina menjelaskan bahwa ia melihat fakta di sekitar tempat tinggalnya yang menjadi tempat sampah plastik impor

Penulis: Sugiyono | Editor: Deddy Humana
istimewa
Aeshnina Azzahra Aqilani (berorasi) dalam gerakan internasional siswa sekolah bolos kelas untuk berpartisipasi dalam aksi mencegah perubahan iklim di Glasgow , Jumat (12/11/2021). 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Seorang pelajar SMP asal Indonesia ternyata menjadi salah satu pejuang melawan perubahan iklim saat UN Climate Chane Conference of the Parties (COP 26) atau konferensi para pihak perubahan iklim di Glasgow, Skotlandia.

Ia adalah Aeshnina Azzahra Aqilani (14), siswi SMP Negeri 12 Gresik yang dalam konferensi itu menyampaikan misinya menolak pengiriman sampah plastik dari negara maju ke negara berkembang.

Dalam kutipan melalui akun medsosnya, Jumat (12/11/2021), Nina - demikian ia disapa - juga menghadiri acara Plastic Health Summit di Amsterdam.

Sedangkan terkait aksinya itu, Nina menjelaskan bahwa ia melihat fakta di sekitar tempat tinggalnya yang menjadi tempat sampah plastik impor. Sehingga, ia tergerak untuk beraksi, sebab tahu bahwa proses daur ulang sampah plastik impor menyebabkan pencemaran mikroplastik dan kontaminasi dioksi pada lingkungan.

“Dalam acara itu, Saya senang bisa bertemu dengan Luisa Marie Neubauer, seorang aktivis iklim Jerman,” tutur Nina.

Lebih lanjut Nina menambahkan, bahwa Luisa adalah salah satu penyelenggara School Strike for Climate (Pemogokan sekolah untuk gerakan iklim) di Jerman, nama lain kegiatan ini adalah Fridays for Future.

Gerakan internasional siswa sekolah yang bolos kelas untuk berpartisipasi dalam demonstrasi menuntut tindakan dari para pemimpin politik untuk mencegah perubahan iklim.

“Luisa sangat mendukung dan bersimpati atas perjuangan yang saya lakukan. Ia mengatakan, akan mendukung perjuangan saya dengan mendorong pemerintah Jerman untuk menghentikan ekspor sampah plastik ke Indonesia, demi menuju keadilan iklim," kata Nina mengutip kata-kata Luisa Marie Neubauer saat bertemu Nina dalam COP 26 di Glasgow.

Dalam COP 26, Nina mendisplay sampah-sampah impor yang berasal dari Eropa, Amerika dan Australia dalam action zone hall serta blue zone.

“Dalam area COP 26 di Glasgow hanya delegasi yang terdaftar pada Panitia United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang boleh masuk dan mengikuti agenda COP,” imbuh Nina yang terdaftar sebagai Observer, mewakili Global Alliance for Incinerator Alternative (GAIA) Asia Pasific,

Lebih lanjut Nina menjelaskan, di dalam areal COP 26 yang di gelar di Scottish Event Campus (SEC) terbagi dalam dua zona. Pertama zona biru yang menjadi ruang lobby dan konferensi.

Sedangkan zona hijau merupakan wahana pameran dari berbagai negara dalam paviliun yang menampilkan upaya negara-negara dalam mitigasi perubahan iklim dan upaya inovasi pengurangan emisi.

“Saya senang dengan paviliun Indonesia, karena banyak menyajikan makanan tradisional Indonesia Seperti klepon, resoles dan lemper. Dalam paviliun diadakan seminar, salah satu yang saya ikuti adalah upaya Indonesia menanggulangi laju deforestasi melalui program restorasi hutan di area konsensi, lahan gambut dan bekas lahan sawit,” imbuhnya. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved