Breaking News:

Berita Gresik

Manajemen Keuangan Perumda Giri Tirta Kembali Disorot, Elemen Ini pun Terpaksa Surati Bupati Gresik

Menurut Anam, dana tersebut dihimpun dari pelanggan untuk pengganti meter air yang diperkirakan akan rusak dalam waktu 5 tahun

Penulis: Sugiyono | Editor: Deddy Humana
surya/mochamad sugiyono
Ketua Orkemas IDR Choirul Anam. 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Gejolak dalam pengelolaan keuangan di Perusahaan Umum Daerah Air Minim (Perumda) Giri Tirta yang berlarut-larut, seperti tiada berujung meski digoyang aksi beberapa kali. Dan puncaknya, Lembaga Kemasyarakatan Informasi Dari Rakyat (IDR) mengirimkan surat terbuka kepada Bupati Gresik, Jumat (12/11/2021).

Ketua Orkemas IDR, Choirul Anam mengatakan, masyarakat tahu bahwa pelayanan air bersih adalah kebutuhan dasar manusia, maka negara dituntut dan wajib untuk memenuhinya. Dan saat ini Perumda Giri Tirta sebagai perusahaan badan layanan umum daerah, dinilai kurang maksimal dalam menjalankan fungsinya. Dari tahun ke tahun pelayanan PDAM tidak pernah ada perbaikan.

“Air mampet dan air keruh yang terus menerus jangan dianggap hal yang biasa, tetapi bagaimana merubah kualitas air yang layak dikonsumsi menjadi hal yang prioritas,” kata Anam.

Lebih lanjut Anam menambahkan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan Bupati Gresik dalam memperbaiki pelayanan air bersih kepada masyarakat. Yaitu merombak manajemen mulai dari Direksi Utama, Umum dan Teknik.

“Hanya Direktur Utama diambilkan dari luar yang pengalaman dibidangnya. Sistem rekrutmennya melalui lelang terbuka dan dilantik oleh bupati. Sedangkan Direktur Tehnik dan Umum diambilkan dari karyawan PDAM sendiri melalui lelang internal,” imbuhnya.

Setelah itu, IDR mendesak percepatan audit teknik dan keuangan yang sudah diperintahkan kepada inspektorat dan BPK. Sehingga, keuangan Perumda lebih jelas penggunaannya.

“Satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu terkait dana meter sebesar Rp 2.500 yang harus dibebankan pada pelanggan setiap bulan, sesuai dengan SK Bupati Nomor 27 tahun 2002,” katanya.

Menurut Anam, dana tersebut dihimpun dari pelanggan untuk pengganti meter air yang diperkirakan akan rusak dalam waktu 5 tahun. “Pada kenyataannya, meter air yang terpasang pada pelanggan puluhan tahun belum pernah rusak dan tidak pernah ganti. Berapa dana yang terkumpul sejak Surat Keputusan Bupati ditetapkan?” ujar Anam.

Anam menghitung secara acak dana masyarakat yang terkumpul dengan jumlah rata-rata 75.000 pelanggan sejak 2002. Maka Rp 2.500 dikalikan 228 bulan dan dikalikan 75.000 pelanggan, hasilnya sudah Rp 42,75 Miliar.

“Ironisnya, ketika ada yang komplain meter airnya rusak hurus menunggu persediaan material meter yang tidak tersedia di gudang. Pertanyaannya, dikemanakan dana yang dihimpun dari pelanggan tersebut? Permasalahan keuangan ini yang membuat saya bersurat ke Bupati Gresik” katanya. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved