Banjir Bandang Kota Batu
Profauna Prediksi Reboisasi Lereng Gunung Arjuno Memakan Waktu 4 Tahun
Organisasi pegiat lingkungan tersebut memprediksi jika upaya reboisasi baru bisa membuahkan hasil dengan durasi lebih dari 3 tahun.
Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.CO.ID, MALANG - Profauna Indonesia telah memetakan kerusakan alam yang diduga menjadi penyebab terjadinya banjir bandang Kota Batu.
Organisasi pegiat lingkungan tersebut memprediksi jika upaya reboisasi baru bisa membuahkan hasil dengan durasi lebih dari 3 tahun.
"Paling cepat untuk reboisasi itu selama 4 tahun," ujar Ketua Profauna Indonesia, Rosek Nursahid ketika dikonfirmasi, Senin (7/11/2021)..
Rosek menganalisa, wilayah sepanjang lereng Gunung Arjuno saat ini sebagian besar telah kehilangam fungsinya sebagai hutan lindung.
Alih fungsi hutan menjadi lahan sayur disebut-sebut jadi biang kerok rusaknya fungsi hutan lindung sebagai penyerap air ke dalam tanah.
Bahkan, sebaran kerusakan hutan sudah begitu masif.
"Kalau luasan hektarnya kami harus mengeceknya secara detail lagi. Namun saya berani mengatakan, lereng Gunung Arjuno arah Batu-Cangar saya kira 90 persen sudah beralih fungsi. Juga termasuk wilayah Sumber Brantas, Bumiaji (Batu) sampai Karangploso (Kabupaten Malang) bahkan hingga Lawang," ujar Rosek.
Baca juga: Gus Kautsar Ikut Turun Gunung untuk Menangkan Gus Yahya Sebagai Ketua Umum PBNU
Selain alih fungsi hutan, rentetan peristiwa kebakaran yang terjadi di lereng Gunung Arjuno pada beberapa tahun silam berimplikasi pada kejadian banjir bandang saat ini.
"Tahun 2019 kebakaran, dan tidak ada penanaman lagi. Kemudian sama petani ditanam sayur. Betul, rentetan peristiwa yang terjadi pada 2019 diduga berimplikasi pada kejadian kali ini (banjir), ada korelasinya. Alamlah yang bertindak saat ini," sebutnya.
Rosek mengingatkan betapa pentingnya keseimbangan ekosistem dan pelestarian hutan.
Ia mengungkap fungsi-fungsi vital sebuah hutan lindung terhadap kehidupan manusia.
"Kami telah menyusuri tempat yang diduga menjadi sumber masalah (banjir bandang). Kesimpulan sementara hutan lindung dan hutan produksi sudah ditanami banyak sayur. Terutama hutan lindung, yang harusnya jadi tegakan yang menyerap air dan longsor malah ditanami sayur. Sehingga tidak ada sistem penyerapan air ke dalam tanah yang baik. Di beberapa tempat juga ada bekas kebakaran hutan yang memicu kurang baiknya penyerapan air tersebut," katanya.
Menyikapi kerusakan alam yang sudah terlanjur terjadi, Rosek menyatakan pihaknya tidak hanya berteori namun melakukan aksi nyata pemulihan fungsi hutan linding.
"Kami sekarang mendampingi petani setempat agar menanam pohon-pohon buah-buahan. Seperti alpukat dan nangka. Selain bisa menjadi upaya reboisasi, petani masih bisa memetik ekonomi dari panen buah," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/hutan-dan-kini-terkikis-dengan-keberadaan-lahan-sayur.jpg)