Breaking News:

Berita Tulungagung

Siswi Korban Pelecehan di Tulungagung Mulai Diperiksa, Pelaku Belum Dipanggil Sampai Bukti Mencukupi

“Jika dalam pemeriksaan ternyata mereka juga mendapat perlakuan yang sama, maka statusnya akan jadi korban,” sambungnya.

Penulis: David Yohanes | Editor: Deddy Humana
surya/david yohanes
Kapolres Tulungagung, AKBP Handono Subiakto. 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Laporan mengenai dugaan pelecehan seksual oleh seorang guru ngaji terhadap para anak didiknya di Kecamatan Boyolangu, sudah didalami oleh Polres Tulungagung. Kapolres Tulungagung, AKBP Handono Subiakto, mengakui pihaknya telah menerima laporan dan sudah melakukan pemeriksaan.

Dan Senin (25/10/2021), penyidik dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim akan meminta keterangan korban. “Kami sudah menerima laporan. Namun saat itu korban meminta waktu untuk dijadwal hari ini,” terang Handono.

Handoko menambahkan, sampai saat ini baru ada satu korban yang melapor ke Polres Tulungagung. Penyidik juga melakukan jemput bola ketika korban tidak hadir ke polres.

Personel UPPA akan datang ke rumah korban, dan melakukan pemeriksaan di rumah. Nantinya para pihak yang tahu kejadian ini akan dimintai keterangan. Termasuk santriwati lain, akan dimintai keterangan sebagai saksi.

“Jika dalam pemeriksaan ternyata mereka juga mendapat perlakuan yang sama, maka statusnya akan jadi korban,” sambungnya.

Ia mengatakan sampai sekarang penyidik belum memanggil pihak terlapor. Jika nanti semua saksi sudah diperiksa, penyidik akan memanggil terlapor untuk dimintai keterangan. Pemanggilan terlapor akan dilakukan jika alat bukti sudah mencukupi.

Polres juga akan menggandeng tokoh agama dan pemerintah desa setempat, untuk memastikan situasi tetap kondusif. “Penegakkan hukum tetap jalan, ttapi kita menjaga agar situasi tetap kondusif,” pungkas Handono.

Sebelumnya seorang wali santriwati melaporkan NK (55), seorang guru ngaji yang diduga melakukan perbuatan tidak pantas. Dari penjelasan korban, sekurangnya ada lima santriwati yang menjadi korban aksi nakal NK.

Dalam aksinya, NK melarang santriwatinya mengenakan celana, dan disarankan menggunakan rok. Saat mengajar santriwati yang duduk di belakang meja mengaji atau dampar, tangannya menjulur lewat kolong meja. Ia kerap memegang paha dan area terlarang santriwatinya.

Bahkan saat belajar shalat pun, para satriwati yang rata-rata masih di bawah umur, tidak luput dari tindakan kurang ajar terlapor. Situasi di desa sempat memanas setelah aksi tidak terpuji NK jadi pembicaraan di kalangan orangtua santriwati. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved