Berita Kampus Surabaya

Fakultas Kedokteran UWKS Bergerak Antisipasi Kasus Stunting di Surabaya

Civitas Akademika Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) bergerak upaya menangani balita stunting di Surabaya.

Penulis: Zainal Arif | Editor: Parmin
surya.co.id/zainal arif
Tim FK UWKS Dr dr Ayling Sanjaya M Kes SpA menjelaskan faktor risiko stunting pada anak di Kampus UWKS, Senin (25/10/2021). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Civitas Akademika Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS)  bergerak upaya menangani dan mecegah balita stunting di Surabaya.

Mulai dari dosen dari dokter spesialis, dosen dari bidang keilmuan hingga mahasiswa yang tergabung kedalam tim Stunting FK UWKS secara aktif mensosialisasikan pemahaman tentang stunting sejak bulan Mei 2021.

Berbagai program telah dilakukan Tim Stunting FK UWKS, diantaranya kegiatan penyuluhan dengan sasaran ibu-ibu balita posyandu, kader, ibu hamil, ibu balita stunting, serta remaja putri di Kelurahan Kalirungkut, Kecamatan Rungkut, Surabaya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Prof Dr dr Suhartati MS mengatakan upaya yang dilakukan menjadi bentuk dukungan kebijakan Presiden Jokowi yang menargetkan problematika stunting terselesaikan pada 2024 mendatang.

Bersama dengan tim, Suhartati mengaku mengajarkan bagaimana cara pemberian vitamin dan makanan sehat.

Tak berhenti disitu, ia juga memberikan pelatihan deteksi dini gangguan pertumbuhan pada balita, deteksi gangguan pertumbuhan bayi dalam kandungan dengan jalur genetik.

"Jadi bukan hanya dari sisi fisik saja namun mengupas juga dampak stunting dari sisi psikologis, kemudian kesehatan ibu hamil," jelas Suhartati kepada SURYA.co.id, Senin (25/10/2021).

Bahkan, FK UWKS juga menggelar webinar yang ditujukan bagi ibu hamil, ibu kader, ibu-ibu balita stunting, dan remaja putri, Minggu (24/10/2021) kemarin.

Webinar tersebut menghadirkan dua pembicara ahli yakni Spesialis Kedokteran Jiwa dari FK UWKS, Dr Harsono SpKJ dan ahli di Bidang Obstetri Ginekologi, Dr dr Harry Gondo SpOG (K).

Salah seorang tim FK UWKS, Dr dr Ayling Sanjaya M Kes SpA menjelaskan, stunting tidak hanya berbicara mengenai anak yang pendek namun juga berbicara mengenai aspek gangguan tumbuh kembang anak dan malnutrisi serta penyakit-penyakit yang dapat menyertainya.

Menurutnya, hal tersebut dapat berpengaruh pada kualitas anak dan masa depan bangsa.

Perhatian secara khusus diperlukan dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Indonesia.

Penyebab serta faktor risiko stunting pada anak bisa terjadi sejak dalam kandungan, ataupun setelah dilahirkan pada masa anak.

Ia mencontohkan di wilayah Indonesia Timur, kebanyakan stunting dipicu oleh cacing dan malaria.

Sedangkan di wilayah perkotaan, justru banyak diakibatkan oleh ketidakpahaman para ibu tentang pentingnya air susu ibu (ASI) untuk para bayinya.

"Idealnya, seorang bayi wajib hanya diberi susu ibunya saja selama 6 bulan sejak dilahirkan (ASI ekslusif)," ujarnya.

"Tapi faktanya, justru banyak bayi yang sudah diberikan susu formula dan makanan tambahan seperti pisang atau nasi,” pungkasnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved