Breaking News:

Berita Kota Surabaya

Gali Lobang Tutup Lobang demi Lunasi Utang, Wanita Ini Instal 10 Aplikasi Pinjol dan Semuanya Ilegal

Bahkan menjajal pinjol sebagai jalan mencapat pinjamn, malah menjadi penyebab rentetan persoalan yang kemudian menghantui ZO (26)

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Deddy Humana
ilustrasi Kompas.com
ilustrasi Fintech 

SURYA.CO.ID, KOTA SURABAYA - Perburuan aplikator pinjaman online (pinjol) ilegal oleh pihak kepolisian belakangan ini, mengungkap banyak cerita pilu dari para korbannya. Salah satunya, ada korban yang mengunduh sampai 10 aplikasi pinjaman online (pinjol) ilegal agar bisa melunasi utangnya dan luput dari kejaran penagih yang intimidatif.

Bahkan menjajal pinjol sebagai jalan mencapat pinjamn, malah menjadi penyebab rentetan persoalan yang kemudian menghantui ZO (26), wanita asal asal Pasuruan. Korban pinjol ilegal ini lantas menjadi sasaran intimidasi debt collector (DC) yang menagih pelunasan pinjaman.

Wanita yang hobi memasak itu, ingat betul pengalaman menjadi target intimidasi DC aplikator pinjol selama empat bulan lamanya, sejak Desember 2019 hingga Maret tahun 2020.

Selama itu, ia mengaku telah menggunakan sekitar 10 aplikasi pinjol, dan belakangan ia mengetahui semua aplikasi yang diunduh di ponselnya, ternyata ilegal semua!

Dan semua aplikator yang ZO manfaatkan jasa peminjaman uangnya secara online itu, melakukan intimidasi dalam proses penagihannya. ‘Gali lubang tutup lubang’, sepertinya pameo itu sangat mewakili pengalamannya dalam menjajal layanan pinjaman berbasis aplikasi tersebut.

Durasi waktu masa pelunasan pinjaman dan penetapan besaran nilai bunga yang sembarangan, diakui ZO menjadi penyebab dirinya terpaksa memanfaatkan 10 aplikasi pinjol. “Lalu aku gali lubang dan tutup lubang. Sampai aku pinjam di 10 aplikasi. Sampai gajiku semuanya enggak cukup. Habis untuk pelunasan,” ujar ZO saat dihubungi, Jumat (22/10/2021).

Proses penagihan yang bersifat intimidatif dari oknum DC pinjol ilegal itu, diakui ZO mengiris-iris hatinya merusak nama baiknya di mata teman-teman, keluarga, hingga lingkungan tempat kerja. Jika terlambat melakukan pembayaran dari tenggat waktu yang ditentukan, foto-foto dan sejumlah informasi data pribadinya, mendadak tersebar di berbagai macam kontak ponsel pertemanannya.

Tentunya melalui sarana aplikasi chatting WhatsApp (WA), bahkan pesan singkat via SMS, hingga intimidasi melalui sambungan telepon menggunakan nomor rahasia (private number).

Bahkan, ZO mengungkapkan, melalui pesan berantai itu, ia difitnah dengan serentetan umpatan dan penyebutan yang tidak pantas, bahkan tidak terbukti kebenarannya. “Aku dituduh sebagai wanita nakal, aku dituduh gelapkan uang perusahaan, aku disebut **** (sensor) dengan bayaran beberapa gitu, sampai dituduh jual narkoba,” paparnya.

Sebelumnya, Polda Jatim telah membentuk satuan tugas (satgas) untuk menangani pengaduan perkara intimidasi praktik debt colector aplikasi pinjol ilegal. Satgas yang sejatinya sudah ada sejak lama itu, selama ini digerakkan oleh Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim yang berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Halaman
12
Sumber: Suar.id
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved