Breaking News:

Ritual Tiban di Blitar

Demi Meminta Hujan, Peserta Tertawa Meski Dicambuk Sampai Berdarah-Darah, Penonton Bergidik Ngeri

Karena bertelanjang dada sehingga rata-rata para pesertanya berdarah-darah karena terkena sabetan cambuk sepanjang 2 meter itu

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
Demi Meminta Hujan, Peserta Tertawa Meski Dicambuk Sampai Berdarah-Darah, Penonton Bergidik Ngeri - ritual-cambukan-minta-hujan-di-blita.jpg
surya/imam taufik
Dua warga beradu kuat dengan saling menyabetkan cambuk dalam ritual Tiban, untuk meminta hujan di Pasar Bangle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Selasa (18/10/2021).
Demi Meminta Hujan, Peserta Tertawa Meski Dicambuk Sampai Berdarah-Darah, Penonton Bergidik Ngeri - ritual-cambukan-minta-hujan-di-blitar-2.jpg
surya/imam taufik
Dua warga beradu kuat dengan saling menyabetkan cambuk dalam ritual Tiban, untuk meminta hujan di Pasar Bangle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Selasa (18/10/2021).

SURYA.CO.ID, BLITAR - Sebuah tradisi tercipta tidak hanya dari kearifan lokal, tetapi juga berangkat dari kondisi lingkungan yang terdampak musim tertentu. Beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi yang sedikit mengerikan, yaitu menyakiti diri sendiri sebagai ikhtiar agar hujan turun, termasuk tradisi Tiban yang sedang berlangsung di Kabupaten Blitar, Selasa (19/10/2021).

Tradisi Tiban atau ritual meminta hujan dengan cara beradu kuat untuk dicambuk, saat ini sedang berlangsung di area Pasar Bangle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Meski masih dalam situasi pandemi Covid-19, namun tak menyurutkan semangat warga untuk melakukan ritual Tiban. Dalam kepercayaan masyarakat tradisional, Tiban bisa menjadi cara agar hujan segera turun sehingga petani tidak terancam gagal panen.

Ritual Tiban yang dibuka sejak Senin (18/10/2021) itu, tidak saja ramai karena banyak warga dan pedagang berdatangan. Tetapi juga ramai dari suara teriakan peserta yang saling mencambuk di sebuah arena kecil berukuran 8x8 meter yang dikerubuti ratusan orang.

Sesekali terdengar lecutan cambuk memecah udara dan memekakkan telinga, diselingi teriakan penuh semangat dari orang yang dicambuk. Terlihat bekas cambukan meninggalkan lebam dan berdarah-darah di badan peserta namun mereka tetap tertawa dan menari-nari.

Rencananya, Tiban ini akan berlangsung sebulan. Dan Selasa (19/10/2021), ritual masih berlangsung dengan meriah. Meski tanpa panggung, namun tak menyurutkan jumlah pesertanya. Bahkan hari pertama Tiban diikuti sebanyak 60 peserta.

Begitu di sepanjang jalan menuju ke arena ritual itu, juga banyak pedagang yang berjualan berbagai aneka makanan. Sebab setiap ada acara ritual Tiban, pengunjungnya selalu membeludak dari berbagai desa dan kecamatan.

"Lumayan, kalau ada acara seperti ini, pasti ramai sehingga bisa menggerakkan ekonomi rakyat kecil. Selain banyak pedagang, warga tiba-tiba punya penghasilan, seperti jadi tukang parkir," kata Bambang Susilo, ketua panitia rirual Tiban.

Meski tanpa panggung namun semua peserta dari berbagai daerah tetap hadir. Mereka bersemangat untuk saling adu kekuatan menyabetkan cambuk karena memang sudah diniatkan agar meminta hujan.

Dan sistem permainannya dalam ritual itu adalah, dua peserta dengan bertelanjang dada bergantian menahan sabetan cambuk. Namun tidak boleh mencambuk di bagian kepala melainkan hanya bagian dada ke bawah.

Halaman
123
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved