Breaking News:

Berita Kota Kediri

Pendidikan di Kota Kediri Makin Lengkap, Guru SD dan SMP Mendapat Pelatihan Inklusi untuk Siswa ABK

Sehingga sekolah tidak membeda-bedakan peserta didik, karena semua siswa berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Deddy Humana

SURYA.CO.ID, KOTA KEDIRI - Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Kediri berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya untuk memberikan pelatihan penyelenggaraan pendidikan inklusi bagi guru SD dan SMP pengajar anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pelatihan diselenggarakan selama empat hari secara daring, serta satu hari secara luring di Aula Dinas Pendidikan Kota Kediri, Sabtu (16/10/2021). Pendidikan inklusi merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan dengan pembelajaran yang ramah bagi semua peserta didik, baik reguler maupun anak berkebutuhan khusus.

Sehingga sekolah tidak membeda-bedakan peserta didik, karena semua siswa berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama.

Kepala Dindik Kota Kediri, Siswanto menjelaskan, pelatihan para guru untuk siswa kebutuhan khusus ini sangat minim perhatian dari berbagai pihak. Kita meminta bantuan kepada berbagai pihak yang mau membantu kami dalam menyelenggarakan pelatihan ini. Kebetulan Universitas Brawijaya tertarik pada kegiatan ini dan mau bekerja sama menyelenggarakan diklat,”ungkap Siswanto.

Sebanyak 50 peserta yang merupakan guru SD dan SMP di Kota Kediri menerima materi yang diberikan dari tim Universitas Brawijaya. Diharapkan dari pelatihan ini, para guru dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pendidikan inklusi.

Tujuan pelatihan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi guru inklusif. Jika para guru ini memiliki tambahan ilmu, pastinya para siswa berkebutuhan khusus akan merasakan dampak baiknya juga,” imbuh Siswanto.

Diharapkan setelah diklat berakhir, siswa-siswa berkebutuhan khusus bisa mendapatkan pendidikan yang sama seperti siswa reguler lainnya. Sehingga pendidikan di Kota Kediri akan semakin lengkap.

Sementara Alies Poetri Lintangsari, Ketua Pelaksana Dosen Berkarya yang juga Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya menjelaskan, kegiatan yang dilakukan ini merupakan salah satu bentuk hilirisasi ilmu. "Apa yang pernah kami dapatkan dan lakukan di tingkat pendidikan tinggi ini, dapat dimanfaatkan oleh para guru, ungkap Alies.

Tim Universitas Brawijaya menerjunkan 7 orang pemateri dari Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas MIPA, Fakultas Psikologi, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Fakultas Sospol dan Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Brawijaya.

Dijelaskan, pelatihan berlangsung secara kombinasi, agar peserta dapat menganalisis siswa disabilitas dengan konteks inklusi. Dan kegiatan penutup ditekankan pada praktik yang dimulai dari simulasi berbagi pengalaman.

Dalam mewujudkan pendidikan inklusi ada banyak metode. Di antaranya, metode diferensiasi dan metode Universal Design Learning (UDL). Dua metode tersebut, yang identik dengan pendidikan inklusi,” jelasnya.

Alies menilai pentingnya pendidikan inklusi pada tingkat pendidikan dasar. Karena banyak siswa berkebutuhan khusus ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dukungan bagi mahasiswa disabilitas akan lebih optimal jika diberikan dari pendidikan dasar.

Harapannya, akan tercipta sistem unit layanan disabilitas di tingkat pendidikan dasar dan menengah yang sportif dan lebih bisa menyiapkan siswa dengan disabilitas untuk belajar di perguruan tinggi,” jelasnya. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved