Breaking News:

Berita Sidoarjo

Proyek KA Cepat dari China Membengkak Rp 114 Triliun, BHS Sebut Bebani Uang Rakyat

pembengkakan biaya ini tidak dibebankan kepada APBN, sesuai perjanjian awal dengan China pada saat pelelangan

Penulis: M Taufik | Editor: Deddy Humana
surya/m taufik
Dewan Pakar Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono menyoroti proyek KA cepat Sidoarjo yang membebani anggaran. 

SURYA.CO.ID, SIDOARJO - Proyek kereta cepat (KA) Jakarta-Bandung terus mendapat sorotan. Termasuk dari anggota Dewan Pakar Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono alias BHS. BHS menilai anggaran proyek KA Jakarta-Bandung tidak rasional, lantaran mengalami pembengkakan biaya 2 miliar USD dari rencana awal 6,07 miliar USD. Sehingga biaya total menjadi 8 miliar USD atau setara dengan Rp 114 triliun.

"Ini merupakan pembengkakan biaya yang fantastis, karena nilai penawaran awal dari China sebesar 5,55 miliar USD. Kalau jumlah total biaya 8 miliar USD maka terjadi kenaikan sekitar 2,5 miliar USD atau 40 persen lebih," tegas BHS, Jumat (15/10/2021).

Seharusnya, menurut BHS, pembengkakan biaya ini tidak dibebankan kepada APBN, sesuai perjanjian awal dengan China pada saat pelelangan. "Maka BPK diharapkan mengaudit anggaran KA cepat tersebut,” ujar BHS.

Anggota DPR-RI periode 2014-2019 ini menilai, pembengkakan biaya yang begitu besar itu akan sangat membebani masyarakat, karena investasinya sebagian besar menggunakan uang rakyat (APBN).

Selain itu, masyarakat akan kesulitan untuk mendapatkan tarif murah bila menggunakan KA Jakarta - Bandung. Maka transportasi ini akan menjadi tidak ekonomis yang akhirnya tidak diminati oleh masyarakat.

"Dengan biaya pembangunan sebesar Rp 114 triliun ini, pemerintah mempunyai target bisa menumbuhkan ekonomi yang besar dan menampung banyak jumlah tenaga kerja," lanjut BHS.

Seharusnya, masih kata BHS, pemerintah bisa melakukan investasi dengan skala prioritas pembangunan yang lebih efektif dan efisien, guna menumbuhkan ekonomi dan menampung tenaga kerja yang jauh lebih besar.

Seperti memprioritaskan pembangunan jalur KA Trans Sumatera yang saat ini masih kurang sekitar 1.500 KM, dan sebagainya. "Dan bila ini (KA Trans Sumatera) diprioritaskan, maka hanya membutuhkan biaya sebesar Rp 45 triliun, dengan asumsi per kilometer rel KA menelan biaya Rp 30 miliar," imbuhnya.

Rel KA api tersebut, sambung Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Timur itu, bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengangkut penumpang dan logistik untuk antisipasi penduduk sekitar 60 juta.

BHS juga menyebut, komuditas logistik yang saat ini sangat melimpah akibat kesulitan mendapatkan transportasi dan banyaknya prasarana jalan yang mengalami kerusakan parah di wilayah Sumetara, mulai dari ujung Selatan sampai Utara, dan sebaliknya.

Sehingga dengan adanya rel KA trans sumatera tersebut, maka akan terjadi pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

BHS menambahkan, keterbatasan jumlah rolling stock (rangkaian KA) yang ada di Sumatera saat ini bisa ditambahkan dengan 200 rangkaian KA penumpang dan barang yang hanya membutuhkan anggaran pembangunan Rp 8 triliun.

Itu untuk asumsi per satu rangkaian dengan anggaran Rp 40 miliar. Dan ini mengakibatkan kenaikan hampir 3 kali lipat dari jumlah rangkaian KA api yang ada di sumatera saat ini.

"Dengan hanya membutuhkan total biaya Rp 53 triliun di atas, maka akan berdampak kenaikan ekonomi signifikan di seluruh Sumatera dan ini tentunya dampaknya jauh lebih besar dari pada kita membangun kereta cepat Jakarta - Bandung yang hanya mengangkut penumpang saja dan melayani sekitar 15 juta penduduk Kota Jakarta dan Bandung," ujar Ketua Dewan Penasehat Gerindra Jawa Timur ini.

Karena itu ia meminta pemerintah perlu mempertimbangkan skala prioritas pembangunan yang lebih efektif dan efisien, untuk menumbuhkan ekonomi dan serapan tenaga kerja yang jauh lebih besar serta dampak pemerataan pertumbuhan ekonomi di wilayah seluruh Indonesia. ***

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved