Breaking News:

Berita Tulungagung

Tulungagung Hadapi Longsor, Angin Topan sampai Tsunami, FPRB Dibentuk agar Warga Tangguh Bencana

Diungkapkan Maryoto, secara topografis maupun geografis Tulungagung mempunyai beragam kerawanan bencana.

Penulis: David Yohanes | Editor: Deddy Humana
surya/da
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo menandatangani komitmen Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB), Kamis (14/10/2021). 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo mengukuhkan Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB), Kamis (14/10/2021). Sesuai namanya, forum ini dibentuk untuk menanggulangi potensi bencana di seluruh wilayah kabupaten.

  • Diungkapkan Maryoto, secara topografis maupun geografis Tulungagung mempunyai beragam kerawanan bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, angin topan hingga tsunami yang mengancam pesisir Selatan. “Karena keterbatasan pemerintah, FPRB ini diharapkan membantu pemerintah dalam penanganan bencana,” terang Maryoto.

FPRB berperan sejak prabencana, saat terjadi bencana hingga pascabencana. Kegiatan prabencana berkaitan dengan pemetaan potensi bencana dan langkah antisipasi yang harus dilakukan.

Peran FPRB sangat vital dalam sosialisasi ke masyarakat terkait potensi bencana di wilayahnya, serta apa yang harus dilakukan. “Jadi masyarakat tahu potensi bencana apa di tempatnya. Saat terjadi bencana mereka tidak panik, karena sudah tahu apa yang harus dilakukan,” sambung Maryoto.

Ada 54 komunitas yang bergabung dalam FPRB Tulungagung. Maryoto menambahkan, pihaknya akan merespon prediksi BMKG terkait potensi tsunami di Selatan Jawa Timur.

Prediksi itu merupakan bentuk peringatan dini yang patut diwaspadai, namun bukan untuk ditakuti. “Jangan sampai membuat panik, prediksi itu memberikan arahan apa yang harus kita lakukan jika bencana itu benar-benar terjadi,” ujar Maryoto.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Soeroto, mengatakan FPRB adalah mitra pemerintah. FPRB bisa memberikan masukan, informasi dan saran kepada pemerintah dalam penanganan bencana.

Tujuannya memastikan kebijakan yang diambil tidak menimbulkan resiko. “Terutama proses sosialisasi sehingga terbentuk masyarakat yang tangguh bencana,” ujar Soeroto.

Saat ini hanya ada delapan desa tangguh bencana di Tulungagung. Keterbatasan desa tangguh bencana ini karena setiap tahun hanya bisa membentuk 1-2 desa saja.

Karena itu peran FPRB sangat besar untuk membuat masyarakat sadar resiko bencana, dan tahu apa yang harus dilakukan. *****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved