Breaking News:

Berita Madiun

Tembakau Lokal Banyak Diburu Pabrikan, Maksimalkan Hasil Panen Petani di Kabupaten Madiun

Selain harga yang bagus, menanam pada pertengahan tahun juga dinilai waktu yang pas lantaran saat curah hujan sedang rendah.

Dok Madiun
Sekolah Lapang Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) di Desa Warurejo, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Rabu (13/10/2021). (tribun jatim/sofyan arif candra) 

SURYA.CO.ID, MADIUN - Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun menggelar sekolah lapang budidaya tembakau di Desa Warurejo, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Rabu (13/10/2021).

Dalam sekolah lapang tersebut, petani diajak lebih semangat untuk menanam tembakau melihat potensi pasarnya yang masih terbuka lebar di pasar nasional.

Selain itu, budidaya tembakau juga dinilai sebagai pilihan yang tepat dikala hama tikus tak hentinya menyerang tanaman padi.

Wakil Ketua Asosiasi Petani Indonesia (APTI) Madiun, Ratno berbagi pengalaman kepada para petani di Desa Warurejo agar hasil budidaya tembakau bisa maksimal.

Ia membagikan tips mulai dari cara mempersiapkan lahan, pengairan maupun penyiraman, hingga cara panen agar kuantitas dan kualitas hasil panen tembakau bisa seperti yang diharapkan.

Salah satu yang digarisbawahi, Ratno menyebutkan saat ini pasar sedang memburu tembakau lokal.

"Tembakau lokal ini diburu karena mengandung nikotin dan tar tinggi. Itu yang saat ini dibutuhkan pabrikan," kata Ratno ditemui usai mengisi sekolah lapang Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT).

Sekolah Lapang Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) di Desa Warurejo, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Rabu (13/10/2021).
Sekolah Lapang Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) di Desa Warurejo, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Rabu (13/10/2021). (tribun jatim/sofyan arif candra)

Namun begitu, Ratno menjelaskan masa panen tembakau lokal ini lebih lama dibandingkan jenis tembakau impor.

Jika tembakau impor membutuhkan waktu tiga bulan untuk menyelesaikan panen, tembakau lokal ini membutuhkan waktu empat bulan.

Dalam kesempatan itu, Ratno menyarankan agar petani bisa melakukan panen pada bulan 9 atau September disaat harga tembakau sedang bagus, yaitu Rp 30 ribu perkilogram.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved