Breaking News:

Berita Gresik

Geram 9 Bulan Harus Makan Debu Jalanan, Warga Gresik Tutup Jalan Penghubung Dua Desa

Beberapa warga mengaku sesak nafas dan batuk akibat kondisi itu. Nur Eva Sanjaya, perangkat Desa Punduttrate juga memprotes Dinas PU.

Penulis: Willy Abraham | Editor: Deddy Humana
surya/willy abraham
Warga menutup ruas jalan yang rusak dengan spanduk dan poster di Metatu dan Punduttrate, Kecamatan Benjeng Gresik, Kamis (14/10/2021). 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Bentuk protes warga atas kerusakan jalan di lingkungannya yang tidak kunjung selesai diperbaiki, biasanya dengan menanam pohon pisang. Tetapi warga dua desa di Gresik memilih meletakkan berbagai benda di jalan penghubung yang tak kunjung diaspal, Kamis (14/10/2021).

Protes itu menjadi puncak kesabaran warga karena jalan penghubung Desa Punduttrate, dan Dusun Purworejo, Desa Metatu, Kecamatan Benjeng masih rusak selama sembilan bulan lamanya.

Kondisi jalan sebenarnya sedang diperbaiki. Sudah diratakan, penghamparan kemudian jalan dipadatkan dan diratakan kembali. Namun tidak kunjung di aspal.

Kondisi tersebut terus dibiarkan sehingga bertambah parah. Pasalnya, jalan tersebut ramai dilalui kendaraan baik roda dua, roda empat maupun lebih.

Warga yang berada di bahu jalan terpaksa menghirup udara bercampur debu. Pemilik rumah juga bekerja ekstra membersihkan rumah karena debu beterbangan siang malam.

Belum lagi warga yang memiliki usaha warung kopi di pinggir jalan. Warungnya menjadi sepi karena debu yang beterbangan setiap hari. Protes melalui kepala desa (kades) sudah dilakukan. Bahkan kondisi jalan irtu pernah diunggah di media sosial sebagai bentuk protes.

Namun jalan belum juga diaspal. Mereka terpaksa melakukan aksi penutupan. Kursi, balok kayu, batu hingga kaleng bekas diletakkan di tengah jalan. Pengendara yang akan melintas terpaksa harus mencari jalan lain. Kegeraman warga sudah tidak bisa dibendung.

Pengendara motor yang coba-coba melintas membuka kayu yang dipasang melintang langsung ditegur warga. Jika membandel, warga tidak segan-segan mengusir agar mencari jalan lain.

Beberapa warga mengaku sesak nafas dan batuk akibat kondisi jalan seperti itu. Nur Eva Sanjaya, perangkat Desa Punduttrate juga memprotes Dinas PU. Sambil menyiram jalan, wanita berkerudung biru ini terlihat kesal bukan main.

"Ini terkait nyawa warga kami. Corona hilang, tetapi kena debu, orang di atas (pemda) tidak tahu. Yang ditutup jalan sepanjang 1 KM, sampai jalan ini diperbaiki," kata Eva.

Nanang Qosim, Kasun Purworejo mengungkapkan hal yang sama. Penutupan jalan sebagai bentuk protes. "Kita tutup karena jalan berdebu, sudah sembilan bulan tidak diperbaiki, ini terlalu lama," kata Qosim.

Pemenang tender proyek perbaikan jalan raya Purworejo dan Punduttrate itu adalah PT Manahadap dari Sidoarjo. Warga yang geram menuding pelaksana proyek ini terkesan lambat.

Untuk meredam aksi yang tidak diinginkan, Polsek Benjeng turun mendatangi lokasi. Warga tetap tidak akan membuka sebelum ada kepastian kapan jalan diaspal. Kemudian, pelaksana proyek harus menyiram jalan untuk mengurangi debu.

Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan DPUTR Kabupaten Gresik, Eddy Pancoro mengatakan kondisi jalan sebenarnya sudah siap untuk diaspal. Karena pengaspalan jalan harus bergantian, sehingga proses pengaspalan harus menunggu. "Pekan ini diaspal, Sabtu besok. Estimasi tiga hari," kata Eddy.

Jalan yang akan diaspal itu kurang lebih sepanjang 400 meter. Pelaksana proyek, kata Eddy, juga sudah melakukan penyiraman jalan sehari dua kali. Karena cuaca panas, intensitas penyiraman jalan akan ditambah. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved