Breaking News:

Berita Ponorogo

Pedagang Keluhkan Penataan Zona Berjualan Tidak Ideal, Banyak Lapak Pasar Legi Ponorogo Kosong

Dari pantauan, Selasa (12/10/2021), ada sekitar 30 persen lapak dan kios di Pasar Legi Ponorogo kosong alias tidak digunakan oleh pemiliknya.

surya/sofyan arif chandra
Suasana jual beli di dalam Pasar Legi yang baru direnovasi di Ponorogo. 

SURYA.CO.ID, PONOROGO - Pasar Legi di Ponorogo sudah berdiri megah berlantai empat, dan menyediakan zona berjualan yang terlihat bersih dan nyaman. Sayangnya, banyak pedagang yang membiarkan lapak dan kios yang dibagikan, dalam keadaan kosong padahal kunci kios sudah diserahkan sejak Juli 2021 lalu.

Dari pantauan, Selasa (12/10/2021), ada sekitar 30 persen lapak dan kios di Pasar Legi Ponorogo kosong alias tidak digunakan oleh pemiliknya.

Melihat hal tersebut, Plt Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM (Perdagkum) Ponorogo, Imam Basori akan memberikan batas waktu kepada para pedagang. Kalau sampai deadline yang ditentukan kios masih tidak digunakan, maka akan dipindahtangankan ke orang lain.

"Kesepakatan dari tiga bulan pertama digunakan kita evaluasi, pedagang agar segera bersurat by name yang memiliki kios, lapak, Los," kata Imam, Selasa (12/10/2021).

Imam menyebut, saat ini pihaknya masih melakukan pendataan lapak mana saja yang belum digunakan. "Akhir bulan ini akan kita evaluasi, termasuk tingkat huniannya untuk menentukan langkah selanjutnya," tegasnya.

Imam juga telah melakukan audiensi dengan para pedagang sebagai bahan evaluasi untuk melakukan penyesuaian terhadap kios dan lapak para pedagang. Termasuk penataan zonasi yang masih saja dikeluhkan oleh para pedagang. Padahal sejak awal, penetapan zonasi ini sudah ditentukan sejak awal Pasar Legi dibangun.

Cipto (60), salah satu pedagang di Pasar Legi Ponorogo sambat karena lokasinya berjualan tidak ada orang yang lewat. Hal tersebut karena lokasi kiosnya yang terletak di lantai 2E dan jauh dari lokasi parkir. "Tidak ada pembeli, kalau pun ada ya yang memang sudah kenal dan jadi langganan," lanjutnya.

Pedagang lain, Yatim (50) membandingkan kiosnya dengan pedagang yang ada di lantai 1. Menurutnya kios di lantai 1 lebih strategis karena aksesnya lebih gampang dan lebih ramai pengunjung dibandingkan dengan lapak miliknya yang terletak dilantai 2 dan di lorong paling ujung. "Pusing jualan tidak lalu. Tidak ada pembeli yang lewat," keluh Yatim.

Seperti diketahui, Pasar Legi Ponorogo sendiri dibangun menggunakan dana APBN sebesar Rp 133 miliar. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyerahkan pengelolaan pasar tersebut kepada Pemkab Ponorogo setelah diresmikan pada Februari 2021 lalu.

Dalam pembangunannya, Pasar Legi Ponorogo didesain mampu menampung lebih dari 3000 pedagang. Pedagang tersebut akan dibagi dengan dilakukan zonasi pembagian jenis dagangan.

Lantai satu untuk pedagang sayuran, buah, daging segar, ayam, ikan segar, ikan asin, kelapa dan selep. Lalu lantai dua diperuntukkan bagi pedagang sembako, palawija, mracang, palen, roti, jajanan.

Sedangkan lantai tiga akan diisi pedagang kerajinan, UMKM, sepatu, palen, plastik, gerabah, dan empon-empon. Lalu lantai empat akan diisi pakaian, kain/jahit, warung dan food court. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved