Breaking News:

Berita Surabaya

Sosialisasi ETLE, Dishub Kota Surabaya Pasang Boneka Squid Game di Persimpangan

Tim E-Dishub Kota Surabaya menggunakan boneka yang viral dalam serial film Squid Game asal Korea Selatan untuk mensosialisasikan tilang elektronik

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Cak Sur
Istimewa/Tangkapan layar
Video sosialisasi ETLE hasil karya tim E-Dishub Surabaya via Instagram 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Tim E-Dishub Kota Surabaya menggunakan boneka yang viral dalam serial film Squid Game asal Korea Selatan untuk mensosialisasikan tilang elektronik atau
Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE).

Dalam video yang diunggah di akun resmi Instagram @dishubsurabaya, boneka tersebut terlihat di salah satu persimpangan lampu lalu lintas, bertugas memberi instruksi agar peserta berjalan saat lampu hijau dan berhenti saat lampu merah.

Saat lampu hijau, para pengendara diperbolehkan melintas. Namun saat lampu merah, boneka akan membalikkan kepala dan melihat apakah ada pengendara yang melanggar atau tidak.

Bila ada yang melanggar, petugas akan mengambil bukti pelanggaran menggunakan kamera tilang elektronik. Petugas juga berpesan, sistem ETLE dapat mengurangi pelanggaran lalu lintas yang sering dilakukan oleh masyarakat.

Ketika dikonfirmasi secara langsung, Kadishub Surabaya, Irvan Wahyudrajad menjelaskan, sosialisasi ini bertujuan untuk mengingatkan pengguna jalan bahwa banyak persimpangan dan ruas jalan sudah terpasang CCTV tilang elektronik atau ETLE oleh Pemerintah Kota Surabaya bekerjasama dng Dirlantas Polda Jatim

"Pelanggar akan menerima surat tilang bila terekam melakukan pelanggaran traffic light , marka jalan, melebihi batas kecepatan, ataupun tidak memasang safety belt dan menggunakan ponsel saat berkendara," ujarnya Senin (4/10/2021).

Irvan juga memaparkan,tTotal kamera yang terpasang di seluruh penjuru Kota Surabaya sebanyak 53 titik, 43 titik di simpang dan 10 titik di ruas untuk speed cam atau pelanggar batas kecepatan.

"Pemkot surabaya dan kepolisian berharap masyarakat tertib dan mengikuti rambu, marka dan tidak melanggar isyarat traffic light," ucapnya.

Seperti, lanjut Irvan, lampu merah, melebihi garis stop, tidak melebihi kecepatan dalam kota 40 km. Selain itu, semua aktifitas pengguna jalan.

"Di jalan dipantau kamera. Ini mengubah pola pikir atau mindset, kalau dulu tidak ada petugas, bisa melanggar lalu lintas," tandasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved