Berita Kediri
Cegah Banjir, Pemkab Kediri Normalisasi Sungai dan Terjunkan Tim Riset UGM Yogyakarta
Upaya Pemkab Kediri menangani banjir dengan melakukan normalisasi sungai dan menurunkan tim riset dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Penulis: Farid Mukarrom | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, KEDIRI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri tangani banjir dengan melakukan normalisasi sungai dan menurunkan tim riset dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Progam ini sangat penting, karena untuk cegah banjir yang terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.
Pada tahun sebelumnya, saat curah hujan masih tinggi membuat air Sungai Kolokoso meluap dan mengakibatkan pemukiman warga terendam banjir.
Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana menyampaikan jika pihaknya dengan serius berupaya menangani banjir di Kabupaten Kediri.
“Bicara mengenai banjir, kita bicara jangka panjang. Bahkan bisa tiga hingga lima tahun mendatang persoalan banjir ini baru bisa diselesaikan," ujarnya, Jumat (1/10/2021).
Tak hanya normalisasi, pihaknya juga menurunkan tim riset tersendiri untuk melakukan pembangunan tentang air di Kabupaten Kediri.
“Tidak hanya normalisasi, kami siapkan tim riset dari Universitas Gajah Mada (UGM) untuk mengecek bagaimana kondisi debit air, air bersih untuk warga, air untuk pertanian. Setelah data diolah, hasil dari riset ini akan kami jadikan acuan untuk pembangunan tentang air di Kabupaten Kediri,” tandasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan DPUPR Kabupaten Kediri, Andri Eko P mengatakan, normalisasi Sungai Kolokoso ini dilakukan sepanjang 6 kilometer.
”Normalisasi ini dilakukan untuk mengurangi imbas cakupan banjir yang menjadi langganan tiap tahun di wilayah Tarokan,” ujarnya.
Andri menyebutkan, normalisasi ini dimulai dari Desa Jati dan ditargetkan akan selesai sebelum Desember.
“Targetnya sebelum Desember sudah rampung,” terangnya.
Tindakan preventif dari Pemerintah Kabupaten Kediri untuk mengatasi banjir ini disambut baik oleh warga dan petani.
Menurut salah seorang petani di Desa Jati, Suparlandimin, normalisasi ini mempunyai dampak besar bagi masyarakat dan petani.
”Ya normalisasi ini memang permintaan dari masyarakat dan sejak dulu ditunggu-tunggu. Sejak tahun 1989 baru pertamakali ini saya melihat ada normalisasi di daerah sini. Dan sangat senang sekali. Agar bisa memperlebar sungai dan mengendalikan banjir,“ terangnya.
Ia juga berharap, dengan adanya normalisasi tersebut tak akan ada kerugian lagi akibat banjir di persawahan warga.
”Tahun lalu, kami tanam 4 kali gagal karena banjir, semoga normalisasi ini bisa mengurangi efek banjir agar tidak terjadi kerugian yang dialami oleh warga dan petani,” harap Suparlandimin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/normalisasi-sungai-di-desa-jati-kecamatan-tarokan-kediri.jpg)