Berita Kampus Surabaya

Unesa Jadikan Desa Sambong Dukuh Kabupaten Jombang sebagai Rintisan Desa Pancasila

UNESA bersama perangkat desa dan berbagai elemen masyarakat akan mengadakan deklarasi Desa Sambong Dukuh sebagai rintisan desa Pancasila

Penulis: Zainal Arif | Editor: Parmin
foto: dok unesa
Kegiatan Kursus Kader Kebangsaan (KKB) jilid II di desa mitra yakni Desa Sombong Dukuh, Kabupaten Jombang. 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Universitas Negeri Surabaya (Unesa)  serius mewujudkan desa Pancasila di Jawa Timur.

Satu di antaranya melalui Kursus Kader Kebangsaan (KKB) jilid II diselenggarakan di Desa Sombong Dukuh, Kabupaten Jombang.

Penanggung Jawab Kegiatan, Dr Bambang Sigit Widodo M Pd mengatakan, peserta kader kebangsaan merupakan mahasiswa yang mayoritas diisi oleh generasi Z.

Dengan tujuan menanamkan nilai-nilai Pancasila dan memperkuat karakter mahasiswa sebagai generasi bangsa yang berkontribusi untuk bangsa dan negara.

“Jadi pelatihan ini, dilakukan di dalam kelas, juga di luar kelas. Peserta terjun dan berkontribusi langsung ke masyarakat,” ujar Bambang kepada SURYA.co.id, Minggu (26/9/2021)

Sementara di lapangan, peserta akan menjalankan tugasnya sebagai kader kebangsaan yang berfokus pada penguatan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat, dalam hal ini masyarakat Desa Sombong Dukuh, Kabupaten Jombang.

Adapun jenis kegiataannya yakni melalui tim KANIRA (Kader Anti Intoleransi dan Radikalisme) melaksanakan kegiatan dialog, refleksi dan aksi gotong royong dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat setempat.

Ada pendeta dari GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) dan GKI (Gereja Kristen Indonesia), Komunitas Gusdurian Jombang, dan Komunitas GENRE.

Bahkan ada Kholil Habsyi selaku ketua BPD, perangkat desa, mahasiswa hingga pemuda IPNU-IPPNU setempat. Total ada sekitar 60 peserta.

Dialog Makna Toleransi Bersama Warga
Narasumber ini melibatkan dosen UNESA, Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba.

Pada kesempatan itu, Iman memaparkan tentang toleransi dan keberagaman, serta ancaman radikalisme, intoleransi hingga cara antisipasi serta solusi konflik di tengah masyarakat.

“Indonesia ini kan beragam dan ini adalah anugerah. Tugas kita bukan mempersoalkan perbedaan, tetapi sama-sama saling menghargai dan mengelola perbedaan itu menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat dan bangsa,” ujar Iman.

Sementara itu, Gus A’an Anshori yang merupakan penggerak komunitas Gusdurian menyampaikan banyak pendapat terkait toleransi khususnya dalam lingkup beragama.

Toleransi tidak hanya didiskusikan, tetapi juga diaplikasikan dalam perilaku sehari-hari dan mulai dari hal-hal yang kecil.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved