Kamis, 11 Juni 2026

Berita Jember

Ada Doa dalam Jenang Sapar, Kuliner Tradisional untuk Keselamatan Yang Pas Dinikmati Usai Hujan

Setiap Bulan Sapar, Sulastri rutin membuat Jenang Sapar. Tahun ini pada 17 Sapar atau Jumat (24/9/2021), Sulastri kembali membuatnya.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Deddy Humana
surya/sri wahyunik
Jenang Sapar yang disajikan di rumah keluarga Sulastri, Jumat (24/9/2021) 

SURYA.CO.ID, JEMBER - Jenang atau bubur menjadi satu dari sekian banyak khazanah kuliner bubur di Indonesia. Salah satu yang masih dipertahankan di kalangan mayoritas masyarakat Muslim di Indonesia, adalah Jenang Sapar.

Jenang Sapar memang dibuat dan dihadirkan secara khusus di Bulan Sapar dalam kalender Tahun Jawa, atau disebut Safar di kalender Hijriyah.

Keluarga Sulastri, warga Jalan dr Soetomo di Kelurahan, Kecamatan Kaliwates Jember, adalah sedikit orang yang setia dengan tradisi itu. Setiap Bulan Sapar, Sulastri rutin membuat Jenang Sapar. Tahun ini pada 17 Sapar atau Jumat (24/9/2021), Sulastri kembali membuatnya.

"Memang setiap tahun di Bulan Sapar, keluarga kami membuat Jenang Sapar. Sudah tradisi turun temurun," ujar Sulastri ketika ditemui SURYA di rumahnya, Jumat (24/9/2021).

Kali ini Sulastri membuat jenang dari bahan tebung beras sebanyak 5 KG. Jenang Sapar yang dibuatnya dibagikan kepada tetangga, saudara, dan dimakan bersama.

Sulastri dan suaminya, Edy Winarko selalu mengundang rekan-rekan mereka untuk menikmati Jenang Sapar di rumah mereka.

"Tentunya setelah kami berdoa atau didungani, jenang kami bagikan ke saudara, tetangga, juga makan bareng teman-teman. Karena memang ada tujuan tertentu dalam tradisi Jenang Sapar ini, yakni semoga mendapatkan keselamatan, dan dijauhkan dari bala (malapetaka)," imbuhnya.

Jenang Sapar itu ditata di atas piring yang telah dialasi daun pisang. Tiga jenis jenang tersaji dalam satu alas yakni Jenang Sumsum, Jenang Grendul, dan Jenang Ketan Hitam.

Kali ini, Sulastri mewarnai Jenang Grendulnya memakai daun pandan sehingga berwarna hijau nan cantik. Jenang Grendul juga semakin harum karena dicampur buah nangka.

Jangan sisakan Jenang Sumsum yang putih bersih nan lembut, dengan rasa perpaduan manis gurih. Jenang Ketan Hitam makin memperkaya rasa sang Jenang Sapar.

"Biasanya Jenang Grendulnya berwarna coklat, tetapi kali ini ingin warna hijau, tetapi sama saja bahannya, dari beras ketan," terangnya.

Sedangkan sang suami, Edy Winarko menambahkan, keluarganya setiap tahun membuat Jenang Sapar untuk melestarikan tradisi tersebut. "Juga agar kita terhindar dari bala bencana alam, juga diberikan kesehatan, dan keselamatan, juga rizki yang melimpah," ujar Edy.

Saat menikmati Jenang Sapar di rumah keluarga Sulastri, Jember sedang dibalut mendung setelah hujan deras turun. Rasa manis, gurih terasa pas dinikmati seusai hujan turun. ***

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved