Breaking News:

DPRD Surabaya

Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah Dicurhati Masalah ‘Pedagang Gelap’ Kampung Kue

Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah saat mengunjungi Kampung Kue Rungkut Lor Gang II, yang sejak tahun 2005 dirintis oleh emak-emak.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
surya.co.id/nuraini faiq
KAMPUNG KUE - Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah saat mengunjungi Kampung Kue Rungkut Lor Gang II, yang sejak tahun 2005 dirintis oleh emak-emak Rungkut Lor menjadi salah satu kampung ikon Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Keberadaan Kampung Kue di Rungkut Lor Gang II telah memberi nilai ekonomis kepada warga. Bahkan dampak ekonomi ini juga telah menjalar hingga keluar kampung. Maka, geliat ekonomi warga harus ditingkatkan. 

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Laila Mufidah termasuk yang tidak rela jika pandemi covid-19 ikut menghantam ekonomi warga Kampung Kue. Para pelaku ekonomi kerakyatan di kampung ini harus bangkit dan melakukan lompatan. Salah satunya dengan cara meramaikan pasar digital. 

Salah satu pendiri Kampung Kue, Choirul Mahpudah menyebutkan bahwa saat ini emak-emak di Kampung Kue sudah nyaman, karena aneka kue bikinan mereka sudah ada di pasar digital. 

"Awalnya di Buka Lapak, Go Food, Grab Food, hingga Sophie-Sophie. Selain kami juga tetap memenuhi permintaan para pelanggan yang beli secara konvensional," kata Bu Irul, sapaan akrab

Choirul Mahpudah, saat menemani Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah berkeliling kampung, Kamis (23/9/2021).

Kesempatan bertemu wakil rakyat itu akhirnya dimaksimalkan oleh warga Kampung Kue. Pasalnya, belum lama ini mereka menggelar pertemuan di kecamatan membahas adanya "pedagang gelap" Kampung Kue. Emak-emak di kampung ini pun curhat ke Laila Mufidah. 

Bu Irul, mewakili para perajin kue menuturkan bahwa mereka merasa tidak nyaman dengan keberadaan warga di luar Kampung Kue yang ikut berjualan di sekitar kampung mereka. Para ‘pedagang gelap’ itu, demikian mereka menyebutnya, menjual aneka kue yang sama di luar gang. 

Bu Irul menyebut ada 9 "pedagang gelap" yang memanfaatkan keberadaan Kampung Kue. Kondisi ini pun disampaikan secara terbuka kepada Laila Mufidah. Mereka berharap ada solusi agar pedagang di luar Kampung Kue itu tidak berjualan di dekat Kampung Kue. 

"Mereka bukan dari warga Rungkut Lor. Kami tidak melarang mereka jualan. Tapi mbok ya memahami bahwa ibu-ibu di sini berjuang gigih bikin kue dan dijual di kampung sendiri. Malah ada pedagang lain yang kulakan dari luar lalu dijual di depan gang," ucap Bu Irul.

Pendiri Kampung Kue ini menginginkan agar semua warga Rungkut Lor bisa berkembang bersama dengan berjualan kue hasil bikinan sendiri. Bukan kulakan dari mana-mana, terus dijual ulang dengan harga lebih murah. Kualitas rasa dan kue Kampung Kue harus dijaga bersama.

Laila pun mendengarkan keluhan para perajin kue di Kampung Kue tersebut. Laila mengatakan akan memperjuangkan suara emak-emak Kampung Kue ini. "Pemkot, dalam hal ini kecamatan dan kelurahan, harus fair," kata Laila. 

Sebab, emak-emak Rungkut Lor lah yang semestinya mendapat berkah dari kerja keras dan perjuangan mereka sejak 2005 menjadikan kampung mereka menjadi salah satu ikon kota.

Kalau kemudian ada pendatang yang membonceng, memanfaatkan nama Kampung Kue, maka harus disikapi serius. Mestinya, lanjut Laila, yang berhak atas dampak branded itu adalah warga Rungkut Lor. "Semua berharap Pemkot segera turun tangan," kata Laila.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved