Breaking News:

Peneliti CSIS Ingatkan Ancaman Kinerja Ekspor karena Anjloknya Harga Komoditas dan Backlog Kontainer

Peneliti Centre of Strategic and International Studies (CSIS) mengingatkan pemerintah tantangan ekspor yang bisa mempengaruhi pemulihan ekonomi

Editor: Rudy Hartono
Foto:diskominfo jatim untuk surya.co.id
Ilustrasi kegiatan ekspor-impor di pelabuhan. Ekspor Jatim pada periode Januari - Juli 2021 terbesar kedua nasional di bawah Jabar. 

SURYA.co.id - Peneliti Centre of Strategic and International Studies (CSIS) mengingatkan pemerintah mengenai tantangan ekspor yang bisa mempengaruhi pemulihan ekonomi nasional. Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan, tantangan tersebut adalah kenaikan harga komoditas yang tidak berkelanjutan dan kendala logistik di pelabuhan dalam negeri dan luar negeri.

"Kita harus hati-hati melihat kenaikan ekspor yang terjadi, walau ini membantu dalam proses pemulihan ekonomi di indonesia," kata Yose dalam ADB Outlook Update secara virtual, Rabu (22/9/2021).

Yose menuturkan, sebagian besar lonjakan kinerja ekspor Indonesia saat pandemi ditopang oleh ekspor komoditas unggulan, seperti kelapa sawit (crude palm oil/CPO), nikel, besi dan baja, raw material, serta bahan bakar mineral.

Kenaikan ekspor tersebut terjadi sebab adanya lonjakan harga komoditas hingga 70 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan harga komoditas tahun depan diproyeksi tidak akan se-booming tahun ini karena terjadi normalisasi. "Walau ada kenaikan permintaan, sebagian besar kenaikan ekspor muncul karena efek kenaikan harga. Dan efek harga ini bisa jadi tidak berkelanjutan atau mungkin tidak berlanjut bila beberapa isu pasokan tidak diatasi dalam waktu dekat," beber Yose.

Tantangan lainnya adalah soal konektivitas dan logistik yang selama ini menjadi kendala utama dalam mendukung ekspor. Menurutnya, pemerintah harus mengantisipasi tantangan ini menyusul kendala logistik di California dan China. Sebagai informasi, terjadi backlog kontainer atau kemacetan kontainer di California. Lalu, China menutup beberapa pelabuhan besar.

Penutupan ini akan mempengaruhi ekspor Indonesia. "Bukan hanya mempengaruhi ke depannya, tapi kita lihat merasakan pengaruhnya, misalnya kenaikan biaya transportasi barang yang mencapai 100 persen," ucap Yose.

Indonesia saat ini mengalami kekurangan kontainer atau peti kemas di banyak pelabuhan. Fenomena ini menjadi salah satu tantangan terbesar Indonesia, khususnya untuk barang-barang non komoditas seperti produk manufaktur yang membutuhkan angkutan barang dan peti kemas. "Kita harus menghadapi situasi ini dengan baik, namun situasi semacam itu tidak bisa diatasi di tingkat nasional saja tapi harus dilakukan di tingkat global dengan kerja sama yang lebih besar di tingkat internasional," pungkas Yose.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pemerintah Harus Waspadai Kenaikan Harga Komoditas yang Bisa Pengaruhi Kinerja Ekspor".

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved