Breaking News:

Berita Situbondo

Situbondo Belum Berhenti Perangi Kusta, Masih Ada 20 Kasus Setiap Tahunnya

sejak 2009 hingga 2021, jumlah penderita kusta di wilayah Kecamatan Panji mencapai sebanyak 600 orang.

Penulis: Izi Hartono | Editor: Deddy Humana
surya/izi hartono
Penderita kusta mendapat penanganan medis di ruang pemeriksaan kusta di Puskesmas Panji Situbondo, Selasa (21/9/2021). 

SURYA.CO.ID, SITUBONDO - Penyakit kusta yang disebabkan penularan virus mikrobaterium lepra masih menjadi persoalan serius di sebagian wilayah Situbondo. Sejak rentang 2009 sampai 2021, ada ratusan kasus kusta di mana rata-rata ada 2- sampai 30 penderita yang tertangani.

Petugas penanganan kusta di Puskesmas Panji, Ikbal mengatakan, tahun ini, jumlah penderita kusta di Kecamatan Panji sudah mengalami penurunan. "Saat ini ada dua kasus penderita kusta baru dan Alhamdulillah sudah mendapat pengobatan selama enam bulan, " ujar Ikbal di tengah kegiatan pengobatan penderita kusta di Puskesmas Panji, Selasa (21/9/2021).

Sejauh ini, kata Ikbal, pihaknya setiap hari tetap membuka layanan pengobatan untuk penderita kusta. Bahkan para penderita kusta banyak yang mau mengikuti vaksinasi Covid-19. "Ada empat orang penderita yang divaksin," ungkapnya.

Dan ia menambahkan bahwa sejak 2009 hingga 2021, jumlah penderita kusta di wilayah Kecamatan Panji mencapai sebanyak 600 orang.

"Selama rentang waktu itu jumlahnya cukup tinggi, karena sejak tahun 2000-an yang kami tangani antara 20 sampai 30 orang setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2009 kita menemukan 57 kasus kusta," jelasnya.

Penyebab kusta, lanjut Ikbal, disebabkan oleh mikrobaterium lepra yang sifatnya menular. "Maka kita harus menemukan kontak secara dini, agar kasus kusta tidak menular kepada yang lain, " jelasnya.

Sementara puluhan penderita penyakit kusta di wilayah Kecamatan Panji mendapat pelayanan pemeriksaan dan pengobatan di Puskesmas Panji. Dalam kegiatan itu, Puskesmas Panji bekerjasama dengan petugas medis RS Sumber Glagah Mojokerjo.

Salah seorang penderita, FZ, mengaku tidak merasa dikucilkan atau dijauhi oleh masyarakat. "Selama ini saya tidak ada masalah dan hidup seperti biasanya, " ujar warga berinsial FZ kepada SURYA usai menjalani pengobatan.

FZ menjelaskan, ia menderita penyakit kusta sejak 2015 lalu, saat menaiki kapal laut kakinya terasa kaku tidak merasakan getaran mesin kapal. "Pada tahun 2016, kaki saya terasa sakit. Padahal gesekan yang mengenai kaki saya tidak seberapa, " kata FZ.

Setelah dua tahun, kata FZ, kulit kakinya tidak terasa meski dicubit atau ditarik dengan menggunakan tangan. "Saya bersyukur setelah mendapat perawatan dan pengobatan, kulit kaki saya mulai terasa sakit kalau dipegang, " tegasnya.

Kepala Puskesmas Panji, dr Bagus mengatakan, penanganan penderita kusta ini merupakan inovasi karena tidak hanya melakukan pengobatan, tetapi juga perawatan lanjutan bagi penderita kusta. "Tujuannya untuk mencegah terjadinya kecacatan," kata Bagus.

Dalam pengobatan ini, kata Bagus, pihaknya bekerja sama dengan RS Sumber Glagah, Kota Mojokerto. "Kita sudah tiga tahun bekerja sama dalam kegiatan ini, dan terus berjalan hingga sekarang," pungkasnya. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved