Breaking News:

Berita Surabaya

Pandemi Melandai, Pengangguran di Surabaya Malah Meningkat; Pemkot Didesak Maksimalkan Peran BLK

pencari kerja yang mengikuti pembinaan, pelatihan, dan sertifikasi keterampilan kerja, targetnya 688 orang dengan anggaran Rp 4 miliar.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Deddy Humana
surya/nuraini faiq
Ketua Fraksi PSI di DPRD Surabaya, Tjutjuk Supariono 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Ketua Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di DPRD Surabaya, Tjutjuk Supariono menyoroti meningkatnya angka pengangguran di Kota Surabaya. Hal ini terjadi, menurut Tjutjuk, salah satunya karena belum optimalnya peran Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah Disnaker Surabaya.

"Mestinya digitaliasi saat ini memberi peluang BLK lebih masif dan efektif menjangkau pencari kerja. BLK belum memberi kontribusi dalam penurunan tingkat pengangguran di kota," kata Tjutjuk usai pembahasan Perubahan APBD (P-APBD) 2021, Selasa (21/9/2021).

Fraksi PSI berpandangan bahwa pelatihan kerja perlu menjadi prioritas dalam rangka pemulihan ekonomi, mengingat kasus Covid-19 yang sudah melandai di Kota Surabaya.

Tjutjuk menyebut bahwa angka pengangguran terbuka di Kota Surabaya pada 2020 menyentuh 9,79 persen. Diakui bahwa pandemi berdampak luas ke seluruh elemen masyarakat.

"Peserta pelatihan keterampilan, sertifikasi, maupun magang belum sepenuhnya direkomendasikan kepada perusahaan untuk menjadi tenaga kerja. Setelah pelatihan, malah banyak peserta yang belum mendapatkan pekerjaan," papar anggota Komisi D DPRD Surabaya ini.

Merujuk pada nota keuangan P-APBD Kota Surabaya 2021, menurutnya, target dari program pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja, serta program penempatan tenaga kerja, masih belum maksimal.

Untuk jumlah pencari kerja yang mengikuti pembinaan, pelatihan, dan sertifikasi keterampilan kerja, targetnya hanya 688 orang dengan anggaran Rp 4 miliar.

Kemudian, jumlah pencari kerja yang difasilitasi magang, targetnya hanya 25 orang dengan anggaran Rp 154 juta. Untuk jumlah angkatan kerja yang mengikuti sertifikasi profesi, targetnya hanya 48 orang dengan anggaran Rp 2,5 miliar.

Adapun untuk persentase pertumbuhan kesempatan kerja yang dapat diinformasikan, targetnya hanya 5,20 persen dengan anggaran sebesar Rp 2,8 miliar.

Tidak optimalnya BLK bukan semata karena pandemi. Pada 2019, jumlah pencari kerja di Disnaker sebanyak 60.320 orang, di mana hanya 10,88 persen di antara peserta pelatihan kerja yang sudah mendapatkan pekerjaan.

"Artinya hanya 0,20 persen kontribusi jumlah peserta yang mengikuti pelatihan. Magang dan penempatan kerja harus dimaksimalkan,” papar Tjutjuk yang juga mendorong warga lebih mandiri berwira usaha. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved