Breaking News:

Perburuan Ali Kalora Berakhir

Rentetan Kejahatan Ali Kalora Sebelum Tewas Ditembak Satgas Madago Raya, Bakar Rumah hingga Membunuh

Berakhir sudah perburuan Ali Kalora, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Ali Kalora tewas setelah baku tembak dengan Satgas Madago Raya.

Editor: Iksan Fauzi
Cover Youtube
Kapolda Sulteng Irjen Pol Rudy Sufahriadi 

Aksi terakhir kelompok MIT diketahui terjadi di Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Selasa (11/5/2021). Ali Kalora Cs diduga membunuh empat petani masing-masing berinisial MS, S, P dan L.

Keempat korban ditemukan tewas di dua lokasi berbeda di perkebunan kopi Desa Kalimago. Usai menghabisi nyawa para petani tersebut, Ali Kalora Cs mengambil uang dan barang lain milik korban.

Qatar Tewas

Sebelumnya, Sargas Madago Raya menembak Qatar alias Farel alias Anas.

Qatar tewas tertembak usai terlibat kontak senjata dengan Satgas Madago Raya di Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 11 Juli 2021.

Qatar diduga kuat sebagai pelaku pembantaian satu keluarga di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi dan empat petani di Desa Kalimago, Kabupaten Poso, beberapa waktu lalu.

Ia juga berperan sebagai pimpinan lain di tubuh kelompok MIT selain Ali Kalora.

Penelusuran TribunPalu.com, Qatar telah bergabung dengan MIT semasa dipimpin Santoso alias Abu Wardah.

Saat itu, ia masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) tindak pidana terorisme.

Dari identitas KTP diperoleh kepolisian, Qatar bernama asli Muhammad Busra beralamat di Desa Wae Racang, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Ia diperkirakan berusia 27 tahun dengan ciri-ciri berkulit sawo matang agak bersih, berambut keriting, berbibir tebal dan berhidung bulat kecil.

Qatar tercatat pernah kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pada 2011, ia menjadi anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Bima sebelum akhirnya hijrah ke Poso untuk memenuhi undangan Santoso, pimpinan MIT kala itu.

Dalam kelompok MIT, sosok Qatar dikenal garang dan beringas.

Hal ini seperti diungkapkan Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf pascainsiden berdarah di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, 27 November 2020 lalu.

Saat itu pimpinan MIT lainnya yaitu Ali Kalora mengalami luka tembak akibat kontak senjata di Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso pada Maret 2021.

Kemudian sejumlah anggota MIT seperti Rukli dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang dikabarkan sedang jatuh sakit.

Dengan kondisi itu, mereka sebenarnya ingin menyerahkan diri kepada aparat kepolisian.

Namun niat itu urung dilakukan karena Qatar menghalangi mereka dengan ancaman.

"Mereka itu mau menyerah tapi takut kepada Qatar. Karena Qatar mengancam akan membunuh keluarga mereka jika menyerahkan diri," kata Danrem Farid, dikutip Selasa (25/5/2021). (TribunPalu.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved