Breaking News:

Berita Surabaya

Pasangan Calon Pengantin Ancang-ancang Tanggal, Kemenag Jatim Imbau Tetap Prokes Ekstra Ketat

Kasi Kepenghuluan dan Fasilitasi Keluarga Sakinah Bidang Urusan Agama Islam, Kanwil Kemenag Jatim, Amanullah, mengimbau pasangan calon pengantin aga

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Parmin
surya/ahmad amru muiz
Foto ilustrasi Tim Satgas Covid-19 Desa Gondanglegi, Kecamatan Prambon Nganjuk mengundang warga yang akan menggelar hajatan di tengah pandemi Covid-19. Kemenag Jatim mengimbau acara hajatan di tengah pandemi tetap mematuhi prokes. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kasi Kepenghuluan dan Fasilitasi Keluarga Sakinah Bidang Urusan Agama Islam, Kanwil Kemenag Jatim, Amanullah, mengimbau sejumlah pasangan calon pengantin yang ancang-ancang memasang tanggal pernikahan.

Hal itu tidak lepas dari situasi dan kondisi Provinsi Jatim, telah masuk kategori penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1, berdasarkan asesmen situasi Covid 19 Kementerian Kesehatan.

"Yang jelas pasangan calon pengantin harus menerapkan protokol kesehatan dengan ekstra ketat, salah satunya dengan dibuktikan hasil swab antigen negatif," tuturnya, ketika dihubungi melalui telepon Senin malam (20/9/2021).

Bahkan, lanjut Amanullah, penghulu juga ikut mengikuti protokol kesehatan dengan memakai sarung tangan, masker dan face shield saat melangsungkan ijab qabul. Jika calon pengantin tidak menerapkan protokol kesehatan, otomatis tidak bisa menggelar akad nikah.

Amanullah juga menceritakan, KUA Jatim mengimplementasikan surat edaran Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI.

Setidaknya ada empat surat yang diterima terkait pelaksanaan pernikahan.

"Jadi surat pertama pada Maret 2020, adalah pelaksanaan nikah tetap bisa digelar dengan ijab qabul diikuti sebanyak 10 orang dan dihimbau prokkes. Kemudian ada surat lagi yang isinya lebih tegas. Dimana selain menerapkan prokes juga ada sanksi apabila tidak mengikuti prokes, prosesi bisa dibatalkan," tuturnya.

"Lalu ada juga surat terkait pengurangan jumlah orang yang hadir saat ijab qabul dari 10 orang menjadi 6 orang. Bahkan kami menerima lagi surat bahwa untuk pendaftaran pernikahan bulan Juli ditiadakan, mengingat kasus Covid begitu tinggi," imbuhnya.

Masih kata Amanullah, mengenai banyaknya calon pengantin yang memutuskan menunda resepsi, dikarenakan ada kekhawatiran ketika melampirkan hasil swab antigen sebagai persyaratan pernikahan.

"Meskipun sudah daftar, lalu mengikuti swab dan hasilnya bisa saja menjadi positif. Maka calon pengantin memutuskan mengundurkan jadwal pernikahan. Orang kalau positif covid pasti mendapat stigma negatif dari masyarakat, dikucilkan," ungkapnya.

Amanullah berpesan, agar tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Jangan sampai Provinsi Jatim yang sudah masuk level 1 turun menjadi level paling bawah.

"Bilamana calon pengantin melanggar tidak melakukan protokol kesehatan dengan sangat ketat, penghulu bisa saja pulang," tutupnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved