Breaking News:

Berita Ponorogo

Dorong Kebangkitan Ekonomi usai Pandemi, Bupati Sugiri Ingin Pulihkan Kejayaan Batik Ponorogo

Untuk kembali menumbuhkembangkan industri batik tersebut, menurut Sugiri, harus diawali dari masyarakat Bumi Reog sendiri.

Dorong Kebangkitan Ekonomi usai Pandemi, Bupati Sugiri Ingin Pulihkan Kejayaan Batik Ponorogo - batik-dorong-perekonomian-ponorogo1.jpg
surya/sofyan arif chandra
Para perajin batik tulis sedang memberi pewarnaan pada desain batik di Wisma Koperasi Ponorogo, Jalan Soekarno-Hatta, Minggu (19/9/2021).
Dorong Kebangkitan Ekonomi usai Pandemi, Bupati Sugiri Ingin Pulihkan Kejayaan Batik Ponorogo - batik-dorong-perekonomian-ponorogo2.jpg
surya/sofyan arif chandra
Para perajin batik tulis menyelesaikan pewarnaan pada desain batik di Wisma Koperasi Ponorogo, Jalan Soekarno-Hatta, Minggu (19/9/2021).

SURYA.CO.ID, PONOROGO - Ponorogo pernah menjadi salah satu daerah yang memiliki batik khas dan mencapai masa kejayaannya. Hanya, saat ini pamor batik Ponorogo memudar, dan itu mendorong Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko untuk membangkitkannya kembali.

Salah satunya adalah memperkenalkan kembali dan menanamkan kecintaan warga Ponorogo pada batiknya sendiri. Untuk itu Sugiri berencana mewajibkan semua ASN (Aparatur Sipil Negara) di lingkungan Pemkab Ponorogo menggunakan batik tradisional asli Ponorogo.

Menurut Sugiri, dulunya Ponorogo mempunyai sentra industri batik yang terkenal sampai mancanegara, bahkan bisa bersaing dengan batik Pekalongan.

Untuk kembali menumbuhkembangkan industri batik tersebut, menurut Sugiri, harus diawali dari masyarakat Bumi Reog sendiri.

"Dulu kita menjadi teladan (dalam budidaya batik). Kalau orang Ponorogo saja tidak mau memakai batik Ponorogo, bagaimana dengan orang dari daerah lain," kata Sugiri, Minggu (19/9/2021).

Selain ASN, Sugiri juga akan mewajibkan seragam sekolah juga menggunakan batik Ponorogo. Menurut Sugiri, dengan semakin melandainya Covid-19 di berbagai daerah, seharusnya diikuti dengan arus balik pergerakan ekonomi.

"Setelah semua lesu akan ada ekonomi arus balik, wisata dan UMKM akan ramai. Karena setelah masyarakat lama tidak berbelanja, mau jalan-jalan ditahan, maka setelah Covid-19 menurun saatnya semua beban akan dilepaskan," tambahnya.

Sugiri sendiri akan melakukan intervensi dengan menyiapkan infrastruktur langsung menuju poros-poros UMKM di Ponorogo. "Selain itu kita juga jaga kualitas, memberikan pemodalan dan bantuan marketing serta menjaga agar demand dan supply seimbang," tambahnya.

Sementara itu, seorang pelatih batik di Wisma Koperasi Ponorogo, Fitria Jamil mengatakan saat ini banyak pembatik-pembatik baru di Bumi Reog. Terutama para pembatik tulis yang menggunakan pewarna sintetis.

Menurut Fitri, batik tulis memang digemari banyak orang lantaran memiliki nilai seni, filosofi dan estetika yang lebih tinggi dibandingkan dengan batik cap atau printing.

Namun biasanya harga batik tulis memang lebih mahal dibandingkan printing. "Tetapi untuk batik tulis pewarnaan sintesis ini harganya cukup beragam. Mulai dari Rp 175.000 hingga Rp 250.000 per lembarnya, tergantung motif dan teknik pewarnaannya," kata Fitria. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved