Breaking News:

Berita Bangkalan

Terumbu Karang dan Mangrove Terjaga, Setelah PHE WMO Berdayakan Warga Pesisir Utara Bangkalan

Dengan kembalinya terumbu karang, maka desa tersebut menjadi desa wisata edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Deddy Humana
surya/ahmad faisol
Jajaran pimpinan SKKK Migas dan PHE WMO memberikan paparan di depan anggota Komisi C DPRD Kabupaten Bangkalan, Kamis (16/9/2021). 

SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Dampak sosial ekonomi untuk warga pesisir Utara Bangkalan atas aktivitas Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO), sudah dibuktikan secara riil.

Dan dalam upaya membantu Pemkab Bangkalan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dan Program Tanggung Jawab Sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR), PHE WMO memadukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan di kawasan pesisir.

Hal itu disampaikan General Manager (GM) Zona 11 Regional 4 Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, Muhammad Arifin dalam pertemuan bersama Komisi C DPRD Kabupaten Bangkalan di Gedung Rapat Paripurna, Kamis (16/9/2021).

“Intinya kami ingin keberadaan perusahaan harus bermanfaat dan memiliki multiplier effect bagi masyarakat sekitar. Kami memadukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan kegiatan pelestarian lingkungan,” jelas Arifin.

Perpaduan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan itu meliputi pengembangan program Taman Wisata Laut Labuhan yang berfokus pada konservasi, transplantasi terumbu karang pada 2017, hingga mengedukasi masyarakat terkait pentingnya terumbu karang.

Sejak 2017 hingga 2021, telah ditanam 877 fragmen karang yang dikelola Kelompok Sadar Wisata Payung Kuning. Ada dua titik transplantasi terumbu karang, yakni di Pulau Ajaib dengan kedalaman lima meter dan Taman Wisata Laut Terumbu Karang.

Dengan kembalinya terumbu karang, maka desa tersebut menjadi desa wisata edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.

“Pelaksanaan program CSR di Kecamatan Klampis, Kecamatan Sepulu, dan Kecamatan Tanjungbumi berangkat dari permasalahan di masyarakat dan hasil social mapping (pemetaan sosial) sebagai landasan menggagas beberapa program pemberdayaan masyarakat,” papar Arifin.

Ia memaparkan, program PHE WMO mendukung salah satu dari 21 program prioritas Bupati Bangkalan untuk menyelamatkan lingkungan menyusul hilangnya fungsi hutan mangrove dan tingginya tingkat abrasi di delapan kecamatan di Bangkalan.

Pesisir Desa Labuhan, lanjutnya, dimanfaatkan untuk wisata laut dan Taman Pendidikan Mangrove. Hasilnya, terjadi peningkatan kerapatan mangrove seluas 4.300 hektare.

Halaman
123
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved