Breaking News:

Berita Situbondo

Sudah Berjalan Dua Tahun, Pemilik Penimbangan Tebu di Situbondo Heran Warga Baru Memprotes

Tempat penimbangan ini, lanjut Iwan, sebenarnya sudah berjalan hampir dua tahun dan baru mau mengurus izin setelah diprotes oleh warga

Penulis: Izi Hartono | Editor: Deddy Humana
surya/izi hartono
Lokasi penimbangan tebu di salah satu desa di Situbondo. 

SURYA.CO.ID, SITUBONDO - Sebuah usaha penimbangan panen tebu milik Sujais, di Desa Pesangrahan, Kecamatan Jangkar Situbondo, ditutup sementara oleh Muspika Jangkar, Rabu (15/9/2021), setelah adanya protes dari warga sekitar.

Meski begitu, penutupan tersebut dipertanyakan Sujais sendiri karena usahanya sudah berjalan sekitar dua tahun tanpa ada masalah. Dan sekarang baru ada warga yang melaporkan bahwa usaha itu mengganggu lingkungan.

"Sebenarnya usaha ini belum sampai dua tahun, dari bibit sampai menjadi tebu ini. Padahal dengan usaha ini, saya tidak hanya bisa bertemu dengan warga, melainlan juga membantu. Apalagi sebelumnya tidak ada masalah apa pun," terang Sujais.

Karena itu Sujais mengaku heran karena sekarang baru ada warga yang memprotes dengan alasan bahwa usahanya itu mengganggu. "Kalau dari awal, persoalan sebenarnya bukan dengan saya tetapi dengan sopir truk (pengangkut tebu)," tandasnya.

Sementara pihak Muspika Jangkar menghentikan sementara usaha penimbangan tebu itu lebih pada alasan perizinan. Selain karena ada keluhan dari warga sekitar, tempat penimbangan tebu itu memang belum menyelesaikan izin dari instasi terkait.

Salah seorang warga, Iwan Yulianto mengatakan, warga menolak usaha itu karena juga tidak memiliki izin. "Kami sangat terganggu, karena aktivitasnya sampai malam hari," ujar Iwan saat dipertemukan dengan Muspika dan didampingi Komisi III di tempat penimbangan milik Sujais tersebut.

Selain gangguan debu, kata Iwan, tempat penimbangan tebu tanpa melalui sosialisasi dengan warga sekitar. "Seharusnya tetangga harus memberi tahu kalau akan mendirikan tempat usaha. Tetapi ini tidak ada. Bahkan dari desa dan kecamatan juga tidak ada," tegas Iwan.

Tempat penimbangan ini, lanjut Iwan, sebenarnya sudah berjalan hampir dua tahun dan baru mau mengurus izin setelah diprotes oleh warga. "Sebelumnya juga kemana, kok baru mengurus izin setelah ramai," tukasnya.

Iwan menjelaskan, sebenarnya Sujais sudah mendapat surat peringatan tiga kali dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Tetapi sampai ada undangan untuk pertemuan dengan warga, Sujais tidak datang.

Sementara Camat Jangkar, Harius mengatakan untuk sementara kegiatan penimbangan tebu ditutup sampai beberapa hari ke depan. Alasannya sama, karena tempat usaha itu dikeluhkan warga yang berdekatan. "Sementara warga di tempat lain tidak ada yang protes karena jauh dari peemukiman," kata Harius. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved