Breaking News:

DPRD Surabaya

Sentra Kuliner Rindukan Pembeli, Reni Astuti: Jangan Ada Gelombang Pandemi saat Ekonomi Bergerak

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti mengunjungi Sentra Wisata Kuliner (SWK) Dharmahusada yang mulai bergeliat seiring melandainya covid-19.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
surya.co.id/sugiharto
KULINER - Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti mengunjungi Sentra Wisata Kuliner (SWK) Dharmahusada yang mulai bergeliat seiring melandainya pandemi covid-19, Rabu (15/9/2021). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pandemi covid-19 yang terus melandai di Kota Surabaya memberi harapan baru bagi para pelaku ekonomi untuk kembali bangkit. Para pedagang makanan di Sentra Wisata Kuliner (SWK) pun merindukan kursi mereka kembali dipenuhi para pembeli.

"Kapan situasi normal kembali sehingga SWK ramai lagi. Bisa untuk bayar cicilan dan bisa untuk makan. Alhamdulillah saat ini mulai berangsur pulih," kata Syafi'i Solahuddin, Ketua SKW Dharmahusada, menyambut sidak Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti, Rabu (15/9/2021).

Reni meninjau pusat ekonomi kerakyatan di SWK. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini datang untuk memberi motivasi dan mendukung penuh bangkitnya ekonomi warga. Sudah 1,5 tahun lebih sektor riil ekonomi warga dihantam pandemi. 

Pimpinan DPRD ini mendukung setiap program Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam upaya mempercepat kebangkitan ekonomi kota. Selain upaya penanganan covid tetap dilakukan. Juga upaya 3T dan 5M harus konsisten dilakukan.

Meski pandemic sudah melandai, namun Surabaya masih ada di level 3 sesuai Inmendagri. Sedangkan kalau menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kota ini sudah PPKM level 2. Hampir semua kegiatan dan sentra ekonomi warga mulai dibuka.

Soal sektor ekonomi ini, sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan warga. Tidak terlepas dari angka pengangguran juga. Segala langkah pemulihan ekonomi harus didukung. Baik ekonomi kerakyatan maupun ekonomi skala lebih besar harus kembali bangkit.

Di Surabaya ada 48 SWK, dengan satu lokasi SWK rata-rata ditempati 30 pedagang. Jadi, ada ribuan warga yang menggantungkan ekonominya dari SWK. Pemkot terus melakukan intervensi. Karena sepi, semua PKL di SWK bebas retribusi saat pendemi.

Sebelumnya, ata-rata setiap pedagang membayar Rp 20.000 per bulan.Total dalam sebulan, potensi retribusi itu tdk diambil oleh pemkot. “Saya harap itu bisa dilanjutkan, karena kondisi sekarang belum stabil,” harap Reni Astuti. 

Pasar, Warkop, dan PKL

Lalu bagaimana dengan pasar, warkop, dan PKL? Ini juga harus diperhatikan sama halnya dengan 48 SWK. Salah satu bentuk bantuannya yang sudah dilakukan seperti bansos (bantuan sosial).

Reni menyambut baik terus dilakukannya pelonggaran dengan prokes (protokol kesehatan) ketat. SWK saat ini juga sudah bisa buka sampai pukul 21.00. Situasi ini sudah membantu warga. "Hasil pantauan kami, situaai SWK sudah mulai pulih sekitar 50 persen," kata Reni/

Alumni ITS ini mendorong terus agar roda ekonomi warga terus bergerak. Namun semua tidak terlepas dari upaya penanganan covid-19. Reni mengingatkan jangan sampai menggeliatnya ekonomi memunculkan gelombang pandemi lagi.

"Jangan sampai menimbulkan covid gelombang baru. Kuncinya di situ. Di sinilah pemkot harus punya kebijakan yang presisi, bisa ngegas dan ngerem aktivitas. Baik itu aktivitas ekonomi maupun sektor lain,” katanya. 

Reni berhara Pemkot dan pihak mana pun wajib menjaga iklim agar UMKM terus bergerak. Termasuk beralih ke platform digital. “Kalau sebelumnya Wali Kota menyatakan akan membuat Surabaya menjadi kota start up, ya ini wujudkan. Dengan prospek yang jelas dan konkret,” pinta Reni.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved