Breaking News:

Penyintas Punya Resiko Post Covid Syndrome, Ini Kata dr Hans Tandra Sp.PD

Meski sudah negatif dari hasil PCR, bukan berarti penyintas bisa langsung sehat seperti sedia kala.

Editor: Cak Sur
Istimewa
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Premier Surabaya, dr Hans Tandra Sp.PD.KEMD, PhD 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Memasuki September, Bed Occupany Ratio (BOR) isolasi COVID-19 di seluruh rumah sakit rujukan di Jawa Timur mulai mengalami penurunan.

Hal ini juga diperkuat dari data penyebaran Covid-19 dari Pemprov Jawa Timur. Di setiap harinya, ada lebih dari 4000 orang sembuh dari virus ini.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Premier Surabaya, dr Hans Tandra Sp.PD.KEMD, PhD menjelaskan, bahwa meski sudah negatif dari hasil PCR, bukan berarti penyintas bisa langsung sehat seperti sedia kala.

“Umumnya, hal ini disebut dengan Post Covid Syndrome. Jadi para penyintas masih merasakan gejala-gejala saat masih terjangkit virus ini. Mulai dari batuk, pilek, anosmia bahkan hingga mudah lelah,” ujar dr Hans.

Pria yang akrab disapa dr Hans ini menambahkan, bahwa gejala Post Covid Syndrome ini bisa berbeda-beda di setiap orangnya.

“Yang perlu diketahui, jika pasien sudah melakukan vaksinasi sebanyak 2 kali, maka kemungkinan untuk terkena Post Covid Syndrome akan lebih rendah, ” jelasnya.

Di beberapa kasus, ada penyintas yang perlu 3 hari agar bisa sembuh dan bugar seperti sedia kala. Namun ada juga yang sampai 6 bulan tak kunjung membaik.

“Jika hal tersebut terjadi, umumnya akan dilakukan tindakan screening pasca Covid. Berupa medical check up untuk melihat kondisi tubuhnya. Karena daya tahan tubbuh diserang dan menyebabkan penggumpalan darah yang berdampak ke seluruh tubuh,” tambah dr Hans.

Ada beberapa pemeriksaan lab yang kerap digunakan sebagai parameter screening pasca Covid. Untuk mengetahui fungsi hati pasca terjangkit covid, pemeriksaan SGOT dan SGPT sangat disarankan untuk melihat bagaimana protein dicerna oleh tubuh melalui kedua enzim tersebut.

Lalu, ada juga pemeriksaan keratinin untuk melihat kondisi dan fungsi ginjal. Kreatinin sendiri adalah limbah dari tubuh yang nantinya akan disaring oleh ginjal. Jika jumlah limbah tubuh ini tinggi, maka ada kemungkinan ginjal dalam kondisi yang kurang baik.

“Yang tak kalah penting adalah pemeriksaan Ddimer dan CRP. Ddimer digunakan untuk melihat fragmen protein saat bekuan darah. Serta CRP untuk melihat protein saat terjadi infeksi atau inflamasi,” sambung dr Hans

Dengan pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, nantinya, dokter akan melihat dan menganalisa bagaimana kondisi pasien.

“Sehingga setelah negatif covid, para penyintas bisa lebih cepat pulih seperti sedia kala,” tutup dokter berusia 70 tahun tersebut. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved