Breaking News:

Berita Tuban

Cara Bedakan Legen dan Tuak, Minuman Khas Kabupaten Tuban, Kenali Waktu Memanennya

Menurut penuturan Darsilan (45), petani penderas pohon nira, legen biasanya dua kali turun (dipanen) dalam sehari.

Penulis: M. Sudarsono | Editor: Parmin
surya.co.id/m sudarsono
Legen saat dituangkan dalam gelas terbuat dari bambu. 

SURYA.co.id | TUBAN - Sebagai daerah perbatuan kapur, Tuban dikenal daerah penghasil minuman legen.

Namun jangan salah, minuman hasil tetesan getah pohon bogor atau nira ini bisa diolah menjadi minuman tuak yang bisa memabukkan.

Lantas bagaimana cara membedakan legen atau tuak?

Menurut penuturan Darsilan (45), petani penderas pohon nira, legen biasanya dua kali turun (dipanen) dalam sehari.

Misal pagi sudah menyiapkan tadah untuk getah nira di atas pohon, maka sore baru bisa diambil. Begitu pula sebaliknya.

"Kalau minuman legen dua kali petik, menyiapkan pagi bisa diambil sore, sore bisa diambil pagi."

"Itu untuk legen, murni tanpa campuran," ujarnya kepada wartawan ditemui di kebun pohon bogor miliknya, Selasa (14/9/2021).

Penderas asal Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding itu menambahkan  jika tuak bisa dikasih babakan (campuran) sebelum dipetik, yang bisa memabukkan.

Tuak hanya bisa dipetik dalam sehari, berbeda dengan legen.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengetahui perbedaan antara legen dan tuak.

Jangan sampai masyarakat tidak mengetahui perbedaan kedua jenis minuman tersebut, meski berasal dari pohon yang sama.

"Masyarakat harus tahu bedanya legen dengan tuak, jangan sampai menganggap keduanya sama," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved