Breaking News:

Berita Surabaya

Untuk Ketahanan Pangan, DKPP Kembangkan Konsep Urban Farming ke Belasan Kampung di Surabaya

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya terus mendorong sejumlah kampung mengembangkan konsep urban farming.

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Febrianto Ramadani
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) sedang memanen sayuran hidroponik di Simomulyo Baru 2C, Jumat (10/9/2021). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Di tengah keterbatasan lahan bercocok tanam di Kota Surabaya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya terus mendorong sejumlah kampung mengembangkan konsep urban farming.

Di satu sisi, DKPP tengah menyiapkan embrio kampung baru dengan konsep serupa. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan ketahanan pangan bagi warga setempat, khususnya di masa sulit seperti pandemi Covid-19.

Sejauh ini, DKPP Surabaya mencatat, ada 11 kampung yang sudah mendapatkan pendampingan, pelatihan dan bantuan berupa paket hidroponik hingga budidaya tanaman sayuran dalam pot (Tasapot). Diharapkan, masyarakat bisa mengaplikasikannya di lingkungan masing masing. Tentunya juga menargetkan tahun ini jumlah kampung akan menjadi lebih banyak.

Dian Anggraeni, Plt Kepala Seksi Pengembangan Pertanian Perkotaan DKPP Kota Surabaya, menjelaskan, konsep ini sebenarnya sudah dikembangkan selama beberapa tahun, menggunakan lahan yang ada bisa dimanfaatkan sebagai pemenuhan gizi keluarga.

"Seiring perjalanan waktu, ternyata ada kelompok yang mampu mengembangkan hingga taraf ekonomi. Jadi budidaya pekarangan bisa memakai lahan fasum, atau lahan pekarangan di kawasan pemukiman. Serta manfaatnya juga untuk peningkatan pendapatan," ujarnya, ketika ditemui di Simomulyo Baru, Jumat (10/9/2021).

Ia menambahkan, secara produksi jika dibandingkan dengan usaha pertanian konvensional sangatlah berbeda. Sehingga, perlu menciptakan nilai lebih ekonomis melalui mengembangkan komoditas yang jarang dibudidayakan petani konvensional.

"Budidaya tanaman melalui media tanah sendiri bisa memanfaatkan seperti pot, polybag atau barang bekas. Sementara menggunakan hidroponik atau aquaponik penguasaannya lebih mumpuni dan khusus," tuturnya.

"Di Surabaya segmen hidroponik dan pemanfaatan media polybag, pot, dikembangkan secara intens sudah bisa memberikan nilai lebih bagi warga sekitar," sambungnya.

Untuk urusan pemasaran, lanjut Dian, dibutuhkan integrasi antara pembudidaya pecinta hidroponik surabaya dengan pembeli, guna memenuhi kuantitas permintaan. Mengingat, secara nilai ekonomis masih lebih unggul petani konvensional

"Faktor iklim kami menyesuaikan. Kalau dataran tinggi dari permukaan bumi berpengaruh ke iklim. Justru dengan iklim yang ada bagaimana memanfaatkan komoditas apa yang sesuai. Jadi kami tidak akan bisa memaksa tanaman sayuran yang dataran tinggi, daripada memaksakan kondisi yang ada, ambil komoditas tanaman umum yang cocok bisa dikonsumsi warga dan bernilai jual lebih tinggi," jelas Dian

Dian berharap, kampung kampung di surabaya yang sudah mendapat pelatihan dan bantuan menajamkan identitasnya dengan fokus pada branding branding tertentu, agar bisa berkembang. Bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga tapi juga kebutuhan ekonomis bagi warga.

"Kami ada petugas pendamping yang mengawal secara intens, kemudian petugas penyuluh lapangan, pendamping urban farming, dan tim teknis yang bisa intens mendampingi, memonitoring urban farming, pemberian nutrisi," terangnya.

"Saya berharap kampung kampung nantinya bisa mengembangkan sendiri dan kami mendorong mereka menjadi swadaya. Bantuan benih dari kami itu nantinya bisa jadi usaha dan hasil penjualannya bisa beli benih," tuntasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved