Breaking News:

Berita Kota Kediri

Setelah Ikuti Pelatihan Menenun, Banyak Penghuni Lapas Kediri Hasilkan Tenun Ikat Berkualitas

Sebelum mengoperasikan ATBM, WBP mendapatkan pelatihan dari warga binaan lainnya yang sudah mahir menenun.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Deddy Humana
surya/didik mashudi
Warga binaan Lapas Kelas II A Kediri menyelesaikan pembuatan kain tenun ikat di ruang ketrampilan lapas. 

SURYA.CO.ID, KOTA KEDIRI - Menjalani masa hukuman bisa menjadi waktu produktif bagi para warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas II A Kediri, salah satunya dengan belajar membuat sesuatu. Seperti dilakukan beberapa WBP yang telah dilatih membuat kain tenun ikat.

Pengerjaan kain tenun ikat ini dilakukan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Pembuatan kain tenun ini bekerja sama dengan perajin kain tenun ikat Medali Mas di Kelurahan Bandarkidul, Kota Kediri.

Sebelum mengoperasikan ATBM, WBP mendapatkan pelatihan dari warga binaan lainnya yang sudah mahir menenun. Ada juga pelatihan dari perajin kain tenun yang memberikan pelatihan teknik menenun kepada warga binaan.

Setelah melakukan latihan selama beberapa hari, warga binaan sudah mampu mengoperasikan sendiri ATBM. Semakin lama pengalaman menenun juga semakin terampil dan cepat untuk menenun.
Ita, salah satu warga binaan mengaku bersyukur mendapatkan pelatihan menenun. Ia menilai pelatihan ini sangat bermanfaat sekaligus untuk mengisi waktu selama menjalani masa hukuman di dalam lapas.

"Dengan menenun saya merasakan kejenuhan itu agak berkurang. Kalau tidak ada kegiatan mungkin terasa jenuh seperti yang dirasakan teman-teman," ungkap Ita, Jumat (10/9/2021).

Dengan pelatihan tenun yang diadakan lapas, Ita tidak merasakan jenuh lagi. "Kami punya kesibukan lagi," ungkapnya.

Sementara dari kegiatan menenun itu, para WBP juga mendapatkan tambahan uang. Namun uang yang diterima juga sangat tergantung hasil penjualan kain tenun.

Sehingga jika kain tenun hasil karya warga binaan banyak yang laku, uang yang diterima juga lumayan. "Kadang sebulan hanya Rp 20.000, juga pernah menerima Rp 80.000," ungkapnya.

Sementara Edi, warga binaan lainnya mengaku sudah terampil untuk mengoperasikan ATBM tenun. Malahan dalam beberapa jam mampu membuat kain tenun untuk ukuran baju.

Edi tertarik belajar tenun ikat untuk mengisi waktu selama menjalani masa hukumannya. Selain itu menenum bisa menjadi bekal ketrampilan saat nanti sudah keluar lapas.

Halaman
12
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved