Breaking News:

Pemprov Jatim

7.044 Anak di Jatim Mendadak Yatim Piatu karena Covid-19, 4.015 Perempuan Jadi Kepala Rumah Tangga

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim Andriyanto merilis data baru terkait dampak covid-19.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
surya.co.id/fatimatuz zahro
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim Andriyanto, Jumat (10/9/2021). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim Andriyanto merilis data baru terkait dampak covid-19 terhadap anak dan perempuan di Jatim.

Pasalnya berdasarkan data dari Dashboard Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), sejak Maret 2020 hingga hari ini, Jumat (10/9/2021), ada sebanyak 7.044 anak usia 0-17 tahun di Jawa Timur yang menjadi yatim, piatu dan yatim piatu selama pandemi Covid-19.

Berdasarkan sumber data Dashboard Nasional Kementerian PPPA, dikatakan Andriyanto, dari 7.044 anak yang ditinggal mati orang tuanya karena covid-19, sebanyak 57 persennya adalah anak yatim, 36 persen piatu dan 7 persen yatim piatu.

“Dengan begitu, kalau dihitung dari jumlah yang menjadi anak yatim, ada perempuan single parent baru yang ditinggal suaminya meninggal Covid-19 (sebagai kepala keluarga) sebanyak 4.015 orang di Jatim,” kata Andriyanto, Jumat (10/9/2021).

Karena mendadak menjadi single parent maka para ibu atau perempuan tersebut otomatis menjadi kepala keluarga dan tulang punggung keluarga. 

Bahkan jika dirinci lebih detail lagi setiap kabupaten kota, yang terbanyak ada di Surabaya, dimana ada sebanyak 1.244 anak yatim, piatu dan yatim piatu. Dari jumlah itu, 55 persennya adalah anak yatim atau ditinggal ayahnya. 

“Artinya, kalau di Surabaya ya ada 684 perempuan menjadi single parent atau janda baru di Surabaya,” kata Andriyanto. 

Lebih lanjut, dengan kondisi ini, ditegaskan Andriyanto bahwa Pemprov Jatim tentunya tidak tinggal diam.

Langkah langkah persuasif dilakukan diantaranya melakukan tinjauan langsung pada anak-anak yang ditinggal meninggal dunia oleh ayah maupun ibunya dan dengan berkolaborasi dengan Dinsos melakukan intervensi pada anak-anak yatim dari keluarga yang tidak mampu atau masyarakat berpenghasilan rendah.

Sedangkan untuk ibu-ibu yang mendadak menjadi single parent atau orang tua tunggal juga diberikan penguatan oleh Pemprov Jawa Timur. Mereka diberikan penguatan ekonomi dengan diberikan pelatihan ekonomi produktif agar bisa tetap menghidupi keluarga mereka. 

“Ibu-ibunya harus kita tingkatkan usaha ekonomi keluarganya. Kami juga melakukan pelatihan peningkatan produktivitas usaha keluarga di Kabupaten Blitar dan Ngawi belum lama ini. Yakni, membuat sabun mandi, sabun cuci piring dan sabun cuci tangan di Blitar. Di Ngawi membuat baju dari bahan yang murah,” jelasnya.

Tidak hanya itu, DP3AK juga akan membuat rumah kurasi Pekka (perempuan sebagai kepala keluarga) berbasis digital. Yang harapannya akan bisa semakin menguatkan skill ibu ibu yang memiliki usaha hingga dipastikan produknya laku di pasar global. 

“Jadi, nantinya mereka ingin pelatihan apa, semisal pelatihan memasak, tinggal mengklik saja. Ada juga pelatihan menjahit, membuat kue dan lain sebagainya. Ini untuk membuat mereka berdaya secara ekonomi semenjak ditinggal suaminya,” tegas Andriyanto. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved