Breaking News:

Berita Banyuwangi

Kopi Banyuwangi di Kaki Gunung Ijen Dapat Sertifikasi Organik Dalam dan Luar Negeri

Poktan Kopi Rejo Desa Gombengsari mendapatkan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) sebagai produsen kopi organik.

Penulis: Haorrahman | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Haorrahman
Kopi Lego Banyuwangi raih sertifikasi dari dalam dan luar negeri. 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Pengembangan pertanian organik di Banyuwangi terus dilakukan. Setelah beras organik mendapat pasar di luar negeri, kini komoditas kopi Bumi Blambangan sukses meraih sertifikasi organik.

Kelompok tani (Poktan) Kopi Rejo dari Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro yang berada di kaki Gunung Ijen telah mendapatkan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) sebagai produsen kopi organik.

Poktan Kopi Rejo menerima dua sertifikat organik, yakni sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) dari lembaga sertifikasi Icert Bogor dan sertifikat Ekspor Uni Eropa yang diterbitkan ACT (Organic Agriculture Certification Thailand), lembaga sertifikasi organik yang berbasis di Thailand.

“Menurut dua lembaga sertifikasi tersebut, Poktan Kopi Rejo secara legal dan konsisten telah memenuhi persyaratan dalam memproduksi kopi organik. Ini pencapaian membanggakan bagi Banyuwangi yang tengah getol mengembangkan budidaya kopi organik,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Arief Setyawan, Rabu (7/9/2021).

Menurut Lembaga Icert, lanjut Arief, kopi yang diproduksi Kopi Rejo dengan merek ”Kopi Lego” itu dinyatakan bebas pestisida dan pupuk kimia berdasarkan pedoman SNI 6729:2016, Permentan No.64/2013, dan Perka BPOM I/2017.

Adapun lembaga ACT Thailand menyebut, Kopi Lego telah memenuhi standar pasar Uni Eropa (UE) karena telah sesuai dengan ketentuan standar organik Amerika Serikat dan Canada.

“Artinya produk Kopi Lego sudah layak ekspor ke pasar Uni Eropa. Ini membuktikan, kopi rakyat Banyuwangi tidak kalah dengan produk kopi milik perkebunan,” ujar Arief.

Lahan kopi yang dikembangkan Kopi Rejo seluas 32,5 hektare. Adapun produk yang disertifikasi adalah kopi Robusta dan Ekselsa dalam bentuk biji kopi (green bean), biji yang sudah di-roasting dan bubuk kopi.

Menurut Arief, budidaya kopi dengan sistem organik sangat menguntungkan petani.

“Saat masih non organik, produksinya 700-800 kuintal per hektare. Sekarang menjadi 1,3 ton per hektare,” ujarnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved