Breaking News:

Berita Blitar

Dibebaskan setelah Dimaafkan Pemilik Swayalan, Derita Dua Emak Pengutil Susu di Blitar Bikin Haru

Hasil mediasi itu, pemilik toko yang menjadi korban kejahatan kedua ibu itu, akhirnya luluh hatinya, hingga mencabut laporannya.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
surya/imam taufiq
Kapolres Blitar, AKBP Aditya Panji Anom (tengah) memediasi pencabutan surat laporan terhadap dua perempuan pelaku pencurian susu, Rabu (8/9/2021). 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Dua perempuan asal Malang yang tepergok mencuri barang di toko swalayan Rina, di Desa Pasiraman, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Kamis (2/9/2021) lalu, akhirnya dibebaskan, Rabu (8/9/2021). Keduanya dibebaskan setelah enam hari sempat menginap di sel tahanan Polres Blitar, karena pemilik swalayan telah mencabut laporannya.

Pembebasan Marti (55) dan keponakannya, Yuli (29), warga Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang itu, juga diwarnai keharuan. Karena kedua perempuan itu sampai menangis haru atas kebaikan hati pemilik swalayan yang mencabut laporannya.

Sambil menangis terisak-isak, mereka mengaku bersyukur karena terbebas dari kasus kejahatan yang telah diperbuatnya. Pembebasan atas kasus 362 - istilah untuk menyebut kasus pencurian di KUHP - berkat upaya petugas melakukan mediasi.

Hasil mediasi itu, pemilik toko yang menjadi korban kejahatan kedua ibu itu, akhirnya luluh hatinya, hingga mencabut laporannya.

"Karena kerugiannya cuma segitu (sekitar Rp 640.000), maka kami lakukan mediasi. Dan korbannya bersedia menerimanya atau tak menuntut lagi, dengan mencabut laporannya," kata Kapolres Blitar, AKBP Adhitya Panji Anom.

sebelum dibebaskan, petugas memberikan persyaratan agar keduanya tidak mengulangi kejahatannya. Jika sampai melakukan perbuatan serupa, polisi mengancam tidak akan memberikan ampun.

Ditambahkan kapolres, yang meringankannya karena mereka belum pernah berurusan dengan kasus kejahatan serupa. "Sudah dicek dan mereka belum pernah melakukan sebelumnya seperti yang telah dilakukan di toko swalayan itu," ungkap Adhitya.

Dan situasi pun berubah menjadi haru setelah pemilik swalayan dan polisi mendengar penuturan keduanya. Ternyata kedua perempuan itu menderita secara ekonomi akibat dampak pandemi.

Pengakuan mereka membuat petugas menghela nafas dalam-dalam. Sebab mereka mengaku sedang kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya setiap hari. Selama pandemi ini, kedua suami mereka juga menganggur.

Malah, Marti mengaku kalau suaminya sedang sakit atau tak bisa berjalan. Sedangkan Yuli mengaku bahwa suaminya sudah tak bekerja sementara ia masih punya anak kecil yang harus diberi makan.

Halaman
12
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved