Breaking News:

Berita Tulungagung

BSPL Cari Penyebab Kematian Lumba-lumba Elektra, Bangkai Ikan pun Dibedah di Tepi Pantai Tulungagung

Nekropsi untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian mamalia laut ini. Organ dalam hewan, mulai dari organ pernafasan

Penulis: David Yohanes | Editor: Deddy Humana
surya/david yohanes
Proses pembedahan bangkai lumba-lumba elektra yang mati di Pantai Sidem Tulungagung, Senin (6/9/2021). 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Seekor lumba-lumba elektra atau paus kepala melon (Peponocephala electra) ditemukan terdampar dan mati di Pantai Sidem, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Senin (6/9/2021).

Lumba-lumba ini adalah bagian dari kawanan mamalia laut yang sempat terdampar di pantai ini. Dua paus lainnya berhasil diselamatkan warga dan bisa dikembalikan ke tengah laut. Sedangkan dua lainnya yang dikabarkan warga mati di Pantai Niyama tidak ditemukan bangkainya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Pelestarian Sumberdaya Pantai dan Laut (BPSPL) Denpasar wilayah kerja Jawa Timur, melakukan nekropsi (pembedahan) pada bangkai hewan ini.

“Nekropsi ini melibatkan teman-teman dokter hewan dari FKH (Fakultas Kedokteran Hewan) Universitas Airlangga Surabaya,” terang Koordinator BPSPL Denpasar Wilker Jatim, Suwardi, Senin (6/9/2021).

Nekropsi untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian mamalia laut ini. Organ dalam hewan, mulai dari organ pernafasan, pencernaan dan otak akan diambil untuk diteliti di laboratorium.

Termasuk untuk menguji kemungkinan adanya parasit yang mengganggu hewan ini. “Semua organ dalam dicek, ada gangguan apa tidak. Dari hasil laboratorium akan ketahuan,” sambung Suwardi.

Ditambahkan Suwardi, selama ini banyak penyebab terdamparnya mamalia laut. Seperti karena faktor cuaca, karena lapar dan mengejar mangsa hingga ke tepi, disorientasi, gangguan seismik, serangan parasit dan terjaring nelayan.

Namun dari semua fenomena alam saat ini, kemungkinan terbesar karena faktor cuaca. “Dugaan kami karena badai, lalu ikan-ikan itu menepi dan karena kelelahan tidak bisa kembali ke laut," tuturnya.

Paus kepala melon yang mati ini diperkirakan masih berusia remaja. Dimungkinkan kawanannya melakukan migrasi, sebab laut Selatan Jawa adalah jalur migrasi semua jenis mamalia.

Namun sulit memastikan, apakah kawanan ini terdampar karena mengejar mangsa atau dalam rangka migrasi tahunan. “Karena itu nekropsi dilakukan untuk mengetahui penyebabnya secara pasti. Kalau sudah diketahui penyebab kematiannya, tidak perlu nekropsi,” tutur Suwardi.

Selama Agustus dan September ini, Suwarni mengaku pihaknya menerima banyak laporan mengenai mamalia laut yang terdampar setiap minggu. Laporan masuk mulai dari pesisir Selatan Jawa Timur, Bali hingga NTT. Pada pantai ada penjaganya dan sudah diberi pelatihan, agar mamalia laut ini bisa diselamatkan.

Karena itu Suwardi berencana membuat pelatihan penyelamatan mamalia laut yang terdampar, bagi para pemangku kepentingan di Tulungagung. Diharapkan pelatihan ini bisa membekali masyarakat untuk mengambil tindakan penyelamatan setiap ada mamalia laut yang terdampar.

“Rencananya pelatihan akan dilaksanakan 28 September mendatang di Pantai Popoh. Ada kelas teori dan praktik di laut,” pungkas suwardi. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved