Breaking News:

Alasan Pekerja Pabrik Rokok dan Petani Tembakau di Jatim Tolak Rencana Pemerintah Naikkan Cukai

Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (FSP RTMM) SPSI Jatim menolak rencana pemerintah menaikkan cukai rokok.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
surya/iksan fauzi
Petani tembakau di Tuban. Pekerja pabrik rokok dan petani tembakau menolak rencana pemerintah menaikkan cukai rokok pada 2022. 

SURYA.co.id | SURABAYA  - Para pekerja pabrik rokok tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (FSP RTMM) SPSI Jatim menolak rencana pemerintah menaikkan cukai rokok pada 2022.

Diperkirakan hampir 65.000 pekerja pabrik rokok di Jatim terdampak bila pemerintah menaikkan cukai rokok tahun depan.

Menurut Ketua FSP RTMM SPSI Jatim, Purnomo, kenaikan cukai rokok akan mengerek harga rokok naik, dan perusahaan akan melakukan berbagai langkah efisiensi.

“Hal ini karena biaya operasional industri ini cukup besar. Mulai dari pengurangan jam kerja, pengurangan upah, bahkan pengurangan karyawan,” kata Purnomo, Jumat (27/8/2021).

FSP RTMM Jatim berharap pemerintah mendengar keluh kesah para pekerja.

Tenaga kerja sektor industri rokok dan tembakau di Jatim saat ini berjumlah 64.431 pekerja.

Kini  terjadi penurunan sekitar 5.000 pekerja, salah satunya karena imbas kenaikan cukai rokok.

“Industri rokok di Jatim sangat besar dibandingkan provinsi lainnya. Industri rokok menaungi puluhan ribu pekerja," ujar Purnomo.

Apalagi selama pandemi Covid-19, tercatat sudah tiga pabrik yang tutup. Pabrik-pabrik lain berupaya bertahan dengan strategi efisiensi.

"Jadi, kami mohon sekali, Pak Presiden, tunda dulu, jangan naikkan cukai rokok lagi. Jangan sampai industri ini hancur,” pinta Purnomo.

Selama satu setengah tahun pandemi, para pekerja rokok berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Bila cukai rokok dinaikkan, maka pabrikan akan mengurangi jam kerja, yang berujung pada pengurangan upah karena borongan kerja yang berkurang.

Sementara bagi petani tembakau, mereka tak kalah ketar-ketir. Berkaca pada momen tahun lalu, pengumuman kenaikan cukai langsung memukul harga jual tembakau di petani.

Padahal pada saat tersebut, petani baru saja melakukan panen. Tahun ini, kondisi iklim juga tidak bersahabat. Seperti  diutarakan oleh Muhdi, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Timur.

“Dengan alasan apapun kami menolak pemerintah menaikkan tarif cukai. Harga tembakau petani pasti akan langsung drop," ujar Muhdi.

"Jika pemerintah menambah dengan pengumuman cukai naik, kiamatlah petani tembakau,” unhkap Muhdi.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved