Breaking News:

Berapa Lama Anosmia Bisa Sembuh? Ini Penjelasan Dokter dan Cara Alami Mengatasi Hilangnya Penciuman

Anosmia atau hilangnya penciuman menjadi salah satu gejala yang kerap dialami penderita Covid-19. Berapa lama jangka waktu mengalaminya hingga sembuh?

Penulis: Alif Nur Fitri Pratiwi | Editor: Adrianus Adhi
surya.co.id/ahmad zaimul haq
Foto Ilustrasi, petugas medis menunjukkan contoh vaksin covid-19 di sela simulasi vaksinasi covid-19 

Penulis: Alif Nur | Editor: Adrianus Adhi

SURYA.CO.ID - Anosmia atau hilangnya penciuman menjadi salah satu gejala yang kerap dialami penderita Covid-19.

Jangka waktu terjadinya anosmia dapat berbeda-beda setiap individu, bahkan ada yang berlangsung cukup lama.

Tidak ada waktu pasti terkait berapa lama anosmia akan sembuh.

Namun, sebagian pasien penyintas Covid-19 melaporkan mengalami anosmia selama 2 minggu hingga 1 bulan.

Baca juga: Berapa Jumlah Normal Trombosit Manusia Agar Tidak Menimbulkan Masalah Ringan hingga Serius?

Ada pula yang melaporkan lebih lama, seperti 2 bulan hingga 5 bulan.

Penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Neurology pada Februari 2021menemukan pasien yang sembuh Covid-19 masih bisa mengalami anosmia hingga 5 bulan kemudian.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar dari partisipan yang diuji tidak mendapatkan kembali indra penciuman sepenuhnya.

Kemampuan penciuman para partisipan diketahui berkurang atau kembali dengan cara yang terdistorsi (mengalami parosmia).

Sementara itu, keterangan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan - Bedah Kepala & Leher dari RS Akademik UGM, Dr Mahatma Sotya Bawono, MSc, SpTHT-KL senada dengan penelitian tersebut.

Menurut Dr Mahatma, pasien Covid-19 bisa mengalami anosmia dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. 

"Berbagai kemungkinan terjadi pada pasien anosmia. Ada yang bisa menderita selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau mungkin menetap selamanya.

Namun, sejauh ini kami mendapati banyak pasien yang bisa sembuh dari anosmia," jelasnya dilansir via Kompas.com Anosmia Akibat Covid-19, Berapa Lama Bisa Sembuh?

Boni sendiri pernah menangani berbagai kasus Covid-19, salah satunya pasien yang baru bisa sembuh dari anosmia lebih dari dua bulan.

“Saya punya satu pasien yang belum sembuh lebih dari dua bulan sejak terpapar Covid-19," tambahnya.

Cara Alami Mengatasi Anosmia

dr. Santi, dokter di Medical Center Kompas Gramedia sempat memaparkan tips untuk mengatasi anosmia.

Pasien Covid-19 atau yang memiliki masalah anosmia pada umumnya bisa melakukan latihan terhadap indera penghidunya. 

"Saraf penghidunya ini dilatih dengan cara memaparkan si saraf terhadap bau-bauan yang kuat," ujarnya. 

Cara sederhana adalah dengan menggunakan bahan yang ada seperti minyak kayu putih atau bahan yang ada di dapur dan memiliki aroma yang kuat. 

Menurutnya, yang penting adalah menggunakan bahan dengan aroma yang kuat dan otak sudah mengingat aroma tersebut.

Namun, jangan menggunakan aroma dari sesuatu yang berbahaya jika dihirup seperti asap rokok.

"Ini latihan seperti ini nih harus dilakukan continue, rutin, terus menerus dan jangan menyerah," ujarnya.

Meski tidak mencium apapun ketika menjalani latihan, tetapi sepanjang dapat mengingat aroma tersebut itu akan mengirim sinyal kepada otak.

Dalam pengalaman dr. Santi, dia menceritakan pernah terjadi di mana seseorang menghirup sesuatu, namun yang tercium adalah aroma lainnya ketika melakukan latihan pernapasan. 

"Itu enggak apa-apa, lanjutkan, tetap menghirup sambil mengingat-ngingat bau sesungguhnya," jelasnya.

Dia menyarankan untuk melatih indera penghidu dengan minyak esensial yang merupakan minyak aromatik yang dapat menguap.

Biasanya yang digunakan untuk menyembuhkan anosmia adalah minyak esensial dengan wangi lemon, mawar, cengkeh, dan eukaliptus. 

Karena sifat minyak esensial yang kental dia mengingatkan untuk tidak menaruhnya di kulit. 

Minyak esensial tersebut bisa diteteskan di kaca, keramik, atau stainless steel, namun dia tidak menyarankan meneteskanya di wadah plastik.

"Diharapkan dengan dipindahlan ke botol wadah dengan mulut lebih besar agar aromanya lebih banyak masuk ke dalam hidung," jelasnya. 

Sifat minyak esensial yang mudah menguap juga membuat dr. Santi merekomendasikan untuk menaruhnya di tempat yang memiliki warna gelap. 

Dengan menghirup minyak esensial diharapkan saraf yang memiliki kemampuan penciuman itu dapat mengingat baunya. 

"Membangun si koneksi antara si saraf penghidu dengan otak," jelasnya.

Mencari waktu yang memungkinkan untuk berkonsenterasi juga penting. 

Karena jika konsenterasi terganggu, itu akan mengganggu proses latihan.

"Walaupun yang menderita anosmia tidak menghidu apa-apa tetap lakukan," kata dr. Santi. 

Cara melakukannya adalah dengan bernapas seperti biasa dengan mendekatkan hidung dengan wadah tempat minyak esensial. 

Latihan menghidu dilakukan dengan membayangkan bau yang sedang dihirup, itu akan membantu mengembalikan respon otak terhadap apa yang sedang dihirup. 

Coba lakukan dengan beberapa aroma yang dianjurkan dan lakukan secara bergantian dengan jeda waktu satu menit.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved